Minoritas Muslim di Dunia

makalah ini dikutip dari berbagai sumber, jadi jika ada yang merasa dokumennya ter-copy paste, mohon maaf...





Berbicara mengenai perkembangan Islam dewasa ini telah menemukan sebuah fakta yang mencengangkan pada jumlah populasinya yang terus meningkat  dari tahun ke tahun. Sebuah data mencatat, jumlah umat Islam di dunia kini mencapai 1,3 milyar jiwa, dan tersebar di seluruh belahan dunia ini.
Negara-negara yang padat penduduknya seperti di benua Asia dan Afrika, umumnya beragama Islam. Mereka hidup dan menikmati fasilitas sebagai pemeluk agama mayoritas di negara-negara tersebut.
Di belahan dunia lain, umat Islam hidup dan berjuang sebagai kelompok minoritas di sebuah benua yang non Islam. Salah satunya adalah di benua Eropa, kerap harus menerima perlakuan diskriminatif dan propaganda anti Islam. Muslim Denmark, misalnya, harus berjuang puluhan tahun demi mendirikan sebuah masjid yang layak untuk beribadah. Muslim Albania harus berjuang membangun kembali masa lalunya setelah komunis yang melarang praktek keagamaan. Atau Muslim Belgia yang seperempat abad lebih berjuang melawan diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Hal-hal semacam ini adalah hal yang telah wajar bagi para minoritas muslim di berbagai belahan dunia. Mereka harus hidup dengan kondisi yang membutuhkan perjuangan ekstra dibanding para muslim di tengah masyarakat mayoritas. Melihat berbagai fenomena yang terjadi di kalangan minoritas, penulis tertarik untuk membahas mengenai  minoritas muslim di berbagai belahan dunia dengan judul “Minoritas Muslim di Dunia

1.     Pengertian minoritas muslim
Minoritas adalah kelompok orang yang karena satu dan lain menjadi korban pertama despotisme Negara atau komunitas yang membentuk mayoritas dan karena itu, merupakan pangkalan manusia da atas Negara yang bersandar. Sangat sering mereka diturunkan ke tingkat keadaan yang tidak jelas dan dalam yang keadaan yang signifikan. Mereka adalah orang yang sejarahnya tetap tidak tertulis, kondisi keberadaannya tetap tidak dikenal, cita-cita dan aspirasinya tetap tidak di apresiasi[1]. Mereka adalah orang–orang yang oleh al-Qur’an disebut sebagai ‘al-Mustad’afin fi  al-Ard’. Sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an:


Dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS. Al-Anfaaal ayat 26).
Webster’s Seventh New Collegiate Dictionary mendefinisikan ‘minoritas’ sebagai  bagian dari penduduk yang cirinya berbeda sering mendapat perlakuan berbeda. Dalam studi ini, istilah ‘Muslim’ dipergunakan untuk menunjukkan semua orang yang mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir  dan mengakui bahwa ajarannya adalah benar, tanpa memandang seberapa mereka tahu tentang ajaran itu, atau seberapa jauh mereka dapat hidup sesuai dengan ajaran itu
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa “Minoritas Muslim” adalah bagian penduduk yang berbeda  dari penduduk lainnya kasrena anggota-anggotanya mengakui Muhammad, putra Abdullah  menjadi utusan Allah yang terakhir  dan meyakini  ajarannya adalah benar, dan  yang sering mendapat  perlakuan berbeda dari orang-orang yang tidak mempunyai  keyakinan. Atau dapat juga dikatakan bahwa minoritas Muslim adalah “bagian penduduk yang berbeda karena anggota-anggotanya adalah Muslim dan sering mendapat perlakuan yang berbeda”. Karena itu, terhadap minoritas semacam itu, orang-orang  yang juga mempunyai cirri berbeda sebagai muslim harus menyadari perbedaan semacam itu dan karenanya harus mencapai tingkat solidaritas.[2]

2.     Muslim Minoritas di berbagai belahan dunia
a.     a. Muslim di Asia
Minoritas muslim di Asia, tidak akan jauh-jauh membahas mengenai perjuangan minoritas muslim di China, Muslim di India dan Asia Tenggara.
  • ·         Muslim Di China
Sebagian besar kaum Muslimin mungkin selamanya memandang orang-orang China sebagai komunitas yang tak ada kait mengait dengan Islam, dan barangkali nyaris mustahil untuk menerima Islam. Fakta sejarah menunjukkan sebaliknya. Pada kenyataannya Islam memiliki sejarah yang panjang di negeri tirai bambu itu. Jumlah kaum Muslimin di China sendiri bukannya sedikit, walaupun kecil dalam persentasenya. Jumlah mereka kurang lebih sama dengan, atau malah lebih banyak dari, beberapa negeri Muslim di Timur Tengah yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Sensus tahun 1990 menyebutkan bahwa jumlah kaum Muslimin di China mencapai 17,5 juta, sementara beberapa sumber Muslim memperkirakan jumlahnya jauh lebih besar dari itu, barangkali antara 30-50 juta orang.[3] Ada interaksi dan proses sejarah yang panjang antara masyarakat China dan Islam yang memungkinkan munculnya angka statistik di atas. Melalui tulisan ini kita akan melihat pasang surut sejarah Islam di China.
Sejak sebelum era Islam sudah terjadi hubungan perdagangan antara dunia Arab dan China. Jalur perdagangan ini ada yang melewati laut dan ada yang melewati darat (jalur sutera). Beberapa pedagang Arab disebut-sebut sudah ada yang menetap di beberapa kota bandar dagang di negeri China, seperti Kanton, Chang Chow, dan Chuan Chow. Walaupun ada yang berpendapat Islam sudah masuk ke Kanton sejak zaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tetapi hubungan resmi antara pemerintah Islam dan China terjadi pada masa Khalifah Utsman ibn Affan radhiyallahu ’anhu yang mengirim delegasi pada kaisar Dinasti Tang (618-905).
Sejak itu terjadi hubungan diplomatik yang baik antara kekhalifahan Islam dan Dinasti Tang. Catatan resmi dinasti tersebut menyebutkan adanya 37 kali perutusan diplomatik di antara kedua belah pihak. Salah satu kaisar China yang terguling karena pemberontakan pada tahun 755 M bahkan pernah mendapat bantuan militer dari pasukan muslim yang dikirim dari Asia Tengah sehingga dinasti tersebut berhasil mendapatkan kembali kedaulatannya. Sebagai balasannya, sang kaisar mengizinkan pasukan muslim yang telah membantunya itu untuk tinggal di salah satu distrik di ibukota Dinasti Tang dan membolehkan mereka melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan China.
Di akhir masa pemerintahan Dinasti Tang tercatat adanya 120.000 orang asing menetap di China. 80 persen dari jumlah tersebut adalah orang-orang Arab, selebihnya orang Persia, Nasrani, dan Yahudi. Orang-orang Arab muslim yang menetap di China pada abad ke-8 telah memperoleh hak khusus untuk mengatur urusan serta memilih pemimpin di antara mereka sendiri. Hal ini menunjukkan adanya hubungan baik serta kepercayaan pemerintah China kepada komunitas muslim yang tinggal di sana. Mobilitas yang dinamis di antara dunia Islam dan Tiongkok telah memungkinkan para ahli geografi muslim mencatat keadaan geografis dan kebudayaan China dengan baik pada masa yang relatif dini, seperti yang bisa didapati pada sebuah kitab anonim berjudul Silsilat al-Tawarikh yang mungkin disusun pada paruh terakhir abad ke-9 dan diedit oleh Abu Zaid al-Sirafi dan kemudian dikutip oleh al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya.
Pada masa-masa berikutnya, eksistensi Islam di China terus berlanjut, malah semakin baik. Ketika China dikuasai oleh Mongol dan terbentuk Dinasti Yuan (1279-1368 M), pengaruh Islam di Tiongkok semakin kokoh. Banyak muslim Arab atau Persia yang diberdayakan dalam pemerintahan dan militer China. Beberapa di antaranya bahkan memegang posisi yang strategis, seperti Saidian Chi (Say Dian Chih/ Sayyid Shini/ Sayyid Syamsuddin) yang menjadi Gubernur di Yunnan. Sebuah pribahasa China sampai-sampai menyebutkan ”Hui-Hui (muslim) tersebar luas di seluruh penjuru China pada masa Dinasti Yuan.” Pada masa ini kaum Muslimin bahkan dipanggil dengan sebutan Da’shman yang bermakna ’orang terpelajar,’ di samping sebutan Mu Su Lu Man dan Hui-Hui.
Keberadaan Islam di China mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368-1644) yang menggantikan Dinasti Yuan. Ibrahim Tien Ying Ma menyebutkan bahwa istri kaisar pertama Dinasti Ming adalah seorang muslimah yang dikenal sebagai Ratu Ma (Ma menurutnya merupakan nama keluarga muslim China yang berasal dari kata ’Muhammad’). Empat dari enam panglima yang mendukung proses revolusi yang melahirkan Dinasti Ming juga merupakan panglima-panglima muslim. Ia juga berargumen bahwa kaisar pertama Dinasti Ming, Chu Yuan Chang, dan kaisar-kaisar Ming berikutnya menganut agama Islam, walaupun mereka tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Yang jelas, masyarakat China mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti ini dan pada masa ini pula Islam mencapai puncak pengaruhnya di negeri tersebut. Admiral Cheng Ho pun menjalankan misi diplomasinya yang sangat menonjol ke Timur Tengah dan Asia Tenggara pada awal pemerintahan Dinasti Ming.
Islam mulai mengalami kemunduran setelah Dinasti Ming digantikan oleh Dinasti Qing/ Manchu (1644-1911). Dinasti terakhir di China ini sikapnya kurang bersahabat terhadap kaum muslimin dan kebijakannya yang merugikan juga telah mendorong terjadinya banyak permberontakan yang dilakukan oleh masyarakat muslim di China. Pemberontakan-pemberontakan tersebut gagal dan ditindas dengan sangat keras oleh rezim Manchu. Lebih dari 2 juta Muslim diperkirakan mati terbunuh pada pertengahan abad ke-19 dan selebihnya dimarjinalkan.
Ketika dinasti ini jatuh oleh gerakan demokrasi dan republikan yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, kaum Muslimin China merasakan keadaan yang lebih baik dan ikut memberikan kontribusi yang cukup penting. Namun, ketika komunisme berkuasa di China sejak tahun 1950, mereka kembali mengalami kemunduran dan mendapat tekanan yang luar biasa. Masjid-masjid dan para imamnya dihancurkan dan disingkirkan oleh pemerintah komunis pada masa Reformasi Keagamaan (1958) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1976).
Liu Baojun memberi contoh bahwa di provinsi Qinghai setelah tahun 1958 hanya tersisa 8 masjid, padahal sebelumnya ada 931 masjid. Jumlah imam dan staf keagamaan di masjid-masjid pun tinggal 12 orang setelah tahun 1958, dari sebelumnya yang berjumlah 5940 orang. Pada masa Revolusi Kebudayaan, masjid dan para imam di provinsi tersebut sama sekali tidak tersisa lagi. Pelaksanaan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan pergi haji tidak diizinkan. Yang terakhir ini menyebabkan muslim China mengalami keterputusan hubungan dengan negeri-negeri Muslim lainnya dan menjadikan generasi muda mereka mengalami kesenjangan dalam pemahaman Islam. Namun sejak masa pemerintahan Deng Xiaoping, keadaan muslim di China menjadi lebih baik. Keyakinan mereka serta kebebasan dalam menjalankan kewajiban keagamaan dilindungi oleh undang-undang.
Ketegangan antara muslim dengan pemerintah komunis China memang masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti yang berlaku di wilayah Xinjiang belum lama ini. Namun itu bukan berarti kaum Muslimin sama sekali tidak memiliki peluang untuk berkembang dan memajukan diri pada masa-masa yang akan datang. Islam telah hadir sejak awal keberadaannya di China dan telah menjadi bagian integral serta memberikan kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut. Walaupun belakangan mendapat tekanan luar biasa dari rezim yang berkuasa, tetapi Islam bukan hanya masih eksis di China, tetapi juga masih memiliki jumlah penganut yang sangat besar. Sementara agama Yahudi dan Kristen Nestorian yang lebih dulu masuk ke China telah habis tak bersisa.[4]
  • ·         Muslim di India
Sebelum agama Islam lahir di Arab, antara bangsa arab dengan bangsa India sudah saling mengenal. Dengan bukti adanya peninggalan pedang Arab yang disebut ”Saif Muhannad” artinya pedang yang di tempa secara India. Kemudian adanya perkataan ” Handasah” yang artinya ilmu ukur yang diambil dari kata ”Hindu”.
    Pada tahun 16 H (636 M) Khalifah Umar mengirimkan pasukan ke Persia di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqas. Beliau berjuang selama 16 tahun, akhirnya dapat menguasai seluruh Persia kemudian diperluas ke Khurasan kemudian diteruskan ke India.
    Pada masa Khalifah Usman, dikirim lah Hakim bin Jabalah ke India, untuk menjelajahi mengenal negeri India yang luas itu. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, tahun 38 H (659 M) Al Harrits Murrah Al Abdi ke India untuk mengyelidiki jalan-jalan India, ilmu pengetahuan dan adat istiadat India.
Masuknya Islam di India dilakukan Khalifah arrasydin dengan cara damai. Tetapi masuknya Islam ke India dilakukan oleh bani Umayah dengan jalan lain. Pasukan Islam masuk ke India di mulai pada zaman pemerintahan Umayah yang berpusat di Damaskus.
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa agama Islam masuk ke India pada abad ke-7. kemudian agama Islam dapat berkembang dengan pesatnya di India, dan pedagang-pedagang Islam India atau Gujarat yang membawa Islam ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaka, Singapura, dan sebagainya.
Sisa-sisa kejayaan Islam di India terutama Dinasti Mughal dapat dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya Taj Mahal di Agra, makam megah yang dibangun pada masa Syah Jahan untuk mengenang permaisurinya, Mumtaz Mahal, adalah saksi bisu kemajuan arsitektur Islam pada masa dinasti ini. Bangunan indah yang termasuk “tujuh keajaiban dunia” ini memang sudah usang, lusuh, dan tidak terawat. Namun, kemegahan dan keindahannya menjadi bukti sejarah akan kokohnya peradaban Islam di India pada waktu itu.[5]
Di India pernah menjadi kejayaan Islam. Meskipun begitu, hingga sekarang umat Islam di India berposisi sebagai minoritas. Sejumlah khasanah Islam dikuasai umat Hindu dan dijadikan objek wisata. Umat Islam di India sekarang sekitar 100 juta jiwa yang berarti India negara ketiga terbesar yang berpenduduk muslim, setelah Indonesia dan Pakistan. Umat Islam di India nasibnya juga sama dengan dinegara-negara lain yang umat islamnya minoritas, mereka ditekan, ditindas penguasa ataupun umat non muslim (Hindu) yang minoritas. Sebagai contoh, penghancuran masjid Babri, Ayodhia, India pada bulan desember 1992. di Bombay terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap sekitar 100 ribu jiwa, oleh partai ekstremis hindu yang berkuasa. Ribuan bangunan bersejarah yang dibangun raja-raja Islam kini menjadi puing yang mengenaskan, kemudian dijadikan objek wisata oleh umat Hindu.[6]
  • ·         Muslim minoritas di Asia Tenggara
Adapun negara yang minoritas Muslim dewasa ini di Asia Tenggara adalah Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Myanmar. Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai muslim di Pattani-Thailand, Filiphina dan Myanmar.
  • Muslim di Thailand
Thailand yang ber-ibukota-kan Bangkok 90 % penduduknya beragama Budha Theravada (kira-kira 54 juta jiwa) dan penduduk Muslim kira-kira 4 juta jiwa dengan memiliki sekitar 2.300 mesjid sebagai tempat beribadah dan pertemuan antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya. Adapun Muslim Thailand terbagi kepada dua kelompok besar, yaitu kelompok yang menegaskan identitas sendiri sebagai Muslim Melayu dan bermukim di Thailand Selatan dan Muslim Thai yang bermukim di Thailand Tengah dan Utara.
Islam masuk ke Thailand diperkirakan pada abad ke-10 M atau ke-11 M, dibawa oleh para pedagang Arab dan tempat pemukiman Islam pertamanya adalah bagian selatan yang lebih dikenal dengan Pattani. Proses penyebaran Islam dilakukan oleh para guru sufi pengembara dan pedagang yang berasal dari wilayah Arab dan pesisir India. Bukti kehadiran Islam di Thailand dibuktikan dengan peninggalan arkeologis, yaitu ditemukan sebuah batu nisan yang bertuliskan tulisan Arab di dekat kampung teluk Cik Munah, Pekan Pahang yang berangka tahun 1028 M.
Lebih kurang 300 tahun keberadaan Islam di Pattani, terbentuk kerajaan Islam di Pattani dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Sulaiman Syah yang berkuasa dari tahun 1357 M-1398 M. Dengan berdirinya kerajaan Islam tersebut telah semakin mempermudah proses Islamisasi penduduk di Pattani yang akhirnya kerajaan Pattani memperoleh kejayaan di Thailand secara umum dan di Pattani secara khusus.
Abad ke-14 M, Thailand mulai melakukan penyerangan dan penaklukan terhadap semenanjung Malaya yang memuncak pada tahun 1767 M. Penaklukkan ini telah mengambil alih kekuasaan negara-negara Muslim Jays (Chaiya), Grahi (Surat-Tsani) dan Ligor ke dalam Imperium Thai. Kemudian dari Ligor inilah orang Thai memperluas penaklukannya ke selatan, seperti Bedelung (Pathalung), Senggora (Songkhla) dan Setul (Satun).
Sepanjang abad ke-19 M, persaingan menaklukkan sisa Semenanjung Malaya meletus antara Inggris dengan Thailand yang dimenangkan oleh Thai pada tahun 1832 M. Akibatnya Muslim semakin di tekan, tanah-tanah mereka diambil alih dan masyarakat Muslim diperlakukan secara tidak wajar.
Kegagalan kerajaan Islam Pattani mempertahankan kekuasaannya di Thailand khususnya Pattani telah menjadi jalan mulus bagi bangsa Thai menguasai Islam secara keseluruhan. Penderitaan Muslim atas perlakuan tidak wajar, apalagi kebijakan pemerintah yang tidak mempertimbangkan kepentingan Muslim sedikit pun ditambah kebijakan pemerintah tentang devide et impera dengan membagi-bagi daerah Pattani menjadi beberapa daerah yang lebih kecil. Kemudian pada tahun 1902 M Rama V Chulangkom penguasa Siam menghapus kedaulatan raja-raja Pattani yang kemudian membagi lagi wilayah Pattani menjadi empat, yakni Pattani, Yala, Saiburi dan Narathiwat.
Selanjutnya pada tahun 1939 M masa pemerintahan Phibhun Songkhram, pemerintah memberlakukan aturan tentang cara berpakaian muslim harus mengikut pola Barat dan bahasa Melayu dikurangi pengaruhnya dan diganti dengan bahasa Thai. Raja juga mengumandangkan supaya umat Islam mengesampingkan beberapa ajaran Islam. Bahkan menurut penafsiran sebuah sumber bahwa dekrit ini mengharuskan Muslim menyembah Patung Buddha. Kemudian Muslim juga dipaksa mengambil nama-nama Thai dan melarang memakai nama-nama Islam (Arab) serta sekolah-sekolah Muslim dihancurkan. Penderitaan yang tak kalah penting lagi yang dialami oleh Muslim adalah pemerintah tidak peduli dengan perayaan-perayaan Islam, Muslim dianiaya, ditahan dan kadang-kadang malah membunuh para pemimpin agama dan politik Muslim antara tahun 1973 M dan tahun 1975 M.
Penderitaan yang sangat mendalam yang dialami oleh Muslim Pattani, telah melahirkan berbagai perlawanan yang berujung pada diperolehnya kemerdekaan oleh Muslim Pattani dari pemerintah Thailand untuk melaksanakan ajaran dan kepercayaan Muslim. Berkat perjuangan yang sengit pada awalnya adalah menuntut kebebasan beragama, setelah lahirnya beberapa barisan-barisan pembebasan seperti Barisan Islam Pembebasan Pattani (BIPP) yang ditubuhkan pada tahun 1959 oleh Tengku Abdul Jalil bin Tengku Abdul Mutalib bekas pimpinan Gabungan Melayu Patani Raya (GEMPAR). Selanjutnya para demonstrasi semakin hari pengikutnya meningkat secara drastis dalam rangka menuntut kebebasan dari pemerintah Thai dan juga menuntut kebebasan dalam melaksanakan agama dan kebebasan dalam memakai nama untuk anak-anaknya.
Berdasarkan catatan tahun 1976 tercatat bahwa jumlah Muslim di Pattani adalah sekitar 5.250 jiwa (11,9%) dari penduduk Thailand secara keseluruhan. Muslim Pattani secara terperinci hidup di empat wilayah, yaitu di Selatan sebanyak 2.820 jiwa dengan jumlah mesjid sebanyak 1.695 buah. Sementara di bagian Tengah jumlah Muslim sebanyak 1.210 jiwa (9.0%) dengan jumlah mesjid sebanyak 364 buah dan di bagian Timur Laut adalah sebanyak 930 jiwa (6.0%) dengan mesjid sebanyak 18 buah. Sementara di bagian Utara jumlah Muslim adalah sebanyak 290 jiwa dengan mesjid 1 buah.
  • Muslim di Filipina
Pada abad ke-7 M, pulau-pulau yang membentuk Filipina sekarang berada dalam keadaan Islamisasi yang maju. Negara Muslim memperluas pengaruhnya atas pulau Sulu, Basilan, Palawan, Negros, Panay, Mindoro dan Iloco di sebelah utara pulau-pulau Luzon. Namun menurut Wan Kamal Mujani bahwa banyak penulis yang menyatakan Islamisasi di selatan Filipina merujuk kepada silsilah Sulu, orang pertama yang memperkenalkan Islam ke Sulu adalah Tuan Mashika pada abad ke-13 M. Selanjutnya penulis lain mengatakan bahwa Islam masuk ke Filipina adalah pada tahun 1365 M dan setelah itu Islam mulai mengembangkan sayapnya di Filipina.
Pada tahun 1434 M-1465 M salah seorang pendakwah Islam yang datang ke Filipina, Syarif abu Bakar mendirikan pemerintahan Islam pertama kalinya dan semenjak itu hampir seluruh Filipina di kuasai. Pada tahun 1486 M Syarif Muhammad bin Ali yang datang dari Johor dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sultan Mengendonoa. Sekitar tahun 1520 disusul oleh kerajaan Islam di Manila yang berada di bawah kekuasaan salah satu keluarga Kesultanan Brunei yang bergelar Datu atau Rajah.
Akan tetapi kedatangan bangsa Spanyol pada tahun 1565 M telah mengubah dunia Filipina menjadi Kristen melebihi kekuasaan Islam, bahkan Islam hidup di bawah rongrongan Kristen. Hal ini telah membuat Muslim melakukan penentangan kepada Spanyol, karena dengan pendirian koloni dengan nuansa kristenisasi telah menghambat proses islamisasi secara langsung. Penyebaran Islam terhenti di Sulu dan Mindanau serta berbagai konflik muncul antara Muslim dengan Spanyol.
Akhirnya konflik antara Muslim dengan Spanyol telah berujung dengan terjadinya peperangan dan Muslim Filipina dinamakan oleh Spanyol dengan orang Moro yang merupakan suatu penghinaan terhadap Muslim. Tahun 1578 M Spanyol juga melibatkan orang-orang Filipina Utara yang telah terkristenkan dalam peperangan melawan umat Islam. Kondisi inilah sampai saat ini yang menimbulkan kebencian, pertikaian dan rasa tidak percaya Kristen Filipina terhadap umat Islam di Filipina Selatan.
Pada tahun 1896 M, Presiden Mc Kinley dari AS memutuskan untuk menduduki Filipina dalam rangka mengkristenkan masyarakat Filipina dan Amerika berhasil menaklukkan daerah jajahan Spanyol, tetapi Sulu melakukan perlawanan. Pada tahun 1914 setelah melakukan perjuangan yang lama Amerika berhasil menaklukkan Sulu. Pada tanggal 11 Maret 1915 M, Raja (Sultan) dipaksa turun tahta, tetapi mereka tetap diakui sebagai komunitas Muslim dan pada bulan April 1940 M Amerika menghapuskan Kesultanan Sulu dan menggabungkan Bangsa Moro ke dalam Filipina.
Semenjak Filipina dan beberapa daerah Islam dikuasai oleh Spanyol dan digantikan oleh Amerika, kondisi Muslim sangat menyedihkan karena mereka dipaksa masuk Kristen dan diperlakukan secara tidak baik oleh penjajah. Kondisi semakin buruk disaat Amerika menyatukan Muslim Moro dengan masyarakat Filipina. Pemerintah Filipina memperlakukan Muslim secara tidak baik dan mereka bekerja sama dengan Amerika untuk melakukan pembunuhan terhadap Muslim dan desa-desa mereka dibakar.
Kondisi seperti ini telah melahirkan semangat perjuangan bagi Muslim melakukan perlawanan terhadap penjajah dan Pemerintah Filipina untuk mempertahankan diri. Penduduk Muslim menderita kesulitan yang luar biasa selama sepuluh tahun terakhir karena keganasan tentara Filipina yang mencoba menghancurkan keinginan Muslim untuk bertahan dan hidup terhormat sebagai Muslim. Sejumlah besar desa Muslim dihancurkan, sehingga banyak pengungsi Muslim yang lari ke Sabah (Malaysia).
Kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan yang panjang dan berkat keterlibatan dunia internasional telah mengantarkan Muslim Filipina memperoleh kemerdekaan dengan program otonomi. Akhirnya Muslim yang pada mulanya hidup di bawah rongrongan penjajah dan pemerintah yang beragama Kristen akhirnya bisa hidup di bawah naungan Islam dan bebas untuk menjalankan syariat. Hukum keluarga diberlakukan hukum Islam dan kantor KUA didirikan sebagai sebuah lembaga yang berfungsi sebagai tempat mengadukan atau memecahkan masalah muslim, terutama dalam hal perkawinan. Adapun dalam bidang pendidikan mereka dapat sekolah di sekolah-sekolah Islam seperti madrasah dan sebagainya.
  • ·         Muslim Myanmar
Penduduk Islam di Myanmar merupakan kumpulan minoritas Muslim yang terbesar di Asia Tenggara. Mereka adalah penduduk yang memiliki nasib sama dengan penduduk Muslim di Thailand dan Filipina. Pemerintah Myanmar memperlakukan Muslim secara kejam, Muslim diusir dari negerinya, harta dirampas dan pemerintah juga menafikan hak kewarganegaraan mereka.
Islam masuk ke Myanmar khususnya wilayah Arakan adalah pada abad ke-1 H/7 M yang dibawa oleh para pedagang Arab yang datang ke Akyab, ibu kota Arakan. Namun Muslim di Arakan dalam proses islamisasi memakan waktu yang lama untuk mewujudkan suatu kekuasaan, mereka baru dapat mendirikan Negara Islam Arakan pada abad ke-8 H/14 M. Proses penyebaran Muslim dari pantai Arakan kemudian lanjut ke selatan dan masuknya Islam ke Myanmar tidak hanya dibawa oleh para pedagang Arab, Muslim Malaysia dan India juga mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran Muslim di Myanmar.
Muslim Burma terdiri dari dua kelompok etnik, yaitu yang berasal dari Indo Pakistan mereka hidup terutama di kota-kota besar mempunyai hubungan yang kuat dengan anak benua India dan yang lainnya berasal dari orang Burma (penduduk asli). Kemudian hukum keluarga Muslim berlaku dan sekitar 5.000 Muslim pergi melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Di kota-kota besar, ada beberapa mesjid dan al-Qur'an diterjemahkan ke dalam bahasa Burma oleh suatu tim Muslim yang benar-benar menguasai materi tentang itu.
Kekuasaan Islam di Arakan berjalan lebih kurang selama 350 tahun dengan 48 orang sultan yang memerintah silih berganti, sehingga dijajah oleh Burma pada tahun 1784 dan penjajahan ini berlanjut dengan diambil alih oleh British pada tahun 1822. Pada tahun 1880-an orang-orang Islam di India berbondong-bondong hijrah ke Myanmar, sehingga jumlah Muslim semakin meningkat di Myanmar.
Setelah Myanmar merdeka dari British pada tahun 1948, pemerintah Myanmar senantiasa waspada terhadap kedudukan Muslim yang penting di ibu kota Negara. Kemudian Muslim juga banyak yang mempunyai jabatan penting di pemerintahan disamping keterlibatan mereka dalam urusan perniagaan yang membuat Muslim memperoleh kemewahan dari hasil perdagangan. Hal ini telah melahirkan sentimen bagi pemerintah Myanmar dan akhirnya terjadilah kontroversi antara Muslim dengan orang Myanmar yang berakibat banyaknya nyawa orang-orang Islam yang menjadi korban.
Rasa sentimen yang begitu mendalam juga menyebabkan munculnya tindakan keganasan dari pemerintah Myanmar terhadap orang Muslim tanpa perikemanusiaan. Tahun 1930-an merupakan permulaan era kemelaratan dan penindasan bagi orang-orang Islam di Myanmar. Beberapa serangan kejam telah dilakukan terhadap Muslim pada tahun 1931 sampai 1938 dan serangan yang paling ganas serta kejam telah terjadi di Yangon dan Mandanay. Di perkirakan dalam peristiwa tersebut sebanyak 200 orang Muslim terbunuh akibat keganasan tentara Myanmar.
Tanah-tanah Muslim dirampas, pemerintah dengan masyarakat Buddha juga menindas masyarakat Islam dengan memeras uang dan memaksa mereka memberi opeti serta memenjarakan mereka dengan sewenang-wenang. Sebagian umat Islam di usir dan tidak boleh kembali kekampung halamannya. Menjelang tahun 1971 dan tahun-tahun berikutnya, kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim terus meningkat tajam. Pada tahun 1977 pemerintah Myanmar melancarkan Operasi Raja Min yang juga dikenal dengan Operasi Naga Min, yaitu operasi benci untuk memeriksa semua penduduk dan mengklasifikasikan mereka kepada dua kategori, yaitu penduduk Burma dan rakyat asing.
Orang-orang Buddha mulai di tempatkan di daerah-daerah Muslim dan mesjid-mesjid dibakar, gedung-gedung perniagaan milik orang-orang Islam di kota Akyab juga dibakar. Orang-orang Islam diejek, dipukul dan dibunuh sewenang-wenang, wanita-wanita diperkosa serta sebagian besar dipaksa menikah dengan tentara Myanmar yang beragama Buddha. Kondisi yang lebih parah lagi pada tahun 1964 orang Muslim tidak dibenarkan lagi melaksanakan ibadah haji, walaupun pada tahun 1980 kebijakan itu dicabut tetapi perbelanjaannya sangat mahal dan terpaksa melalui berbagai prosedur yang sangat rumit.
Perlakuan pemerintah Myanmar yang tidak baik terhadap Muslim telah membangkitkan semangat Muslim untuk melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar. Apalagi keinginan otonomi tidak mendapat sahutan dari pemerintah yang sangat kejam, semakin membuat Muslim sadar karena mereka sudah diotak atik oleh pemerintah sesuai seleranya. Puncak perlawanan Muslim terjadi pada tahun 1948 berlanjut sampai tahun 1954 yang dikenal dengan Pemberontakan Mujahid yang dipimpin oleh Kasim. Namun Kasim akhirnya tertangkap, tetapi perjuangan umat Islam terus berjalan sampai tahun 1961 dalam memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintah.
Kondisi Muslim di Myanmar saat ini, menurut muslim mereka sangat teraniaya dengan perlakuan pemerintah yang sangat kejam, dan mereka merasa tidak mendapatkan tempat yang sama dalam urusan pekerjaan. Adapun dalam bidang pendidikan, mereka kalau sekolah di sekolah umum tidak akan mendapatkan pelajaran agama, sedangkan kalau sekolah di sekolah agama (Islam) mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di pemerintahan sebagaimana alumni pelajar umum lainnya. Namun hal yang tidak dilihat oleh muslim adalah bagaimana sebenarnya pemerintah telah berusaha memfasilitasi muslim dengan baik, baik dalam masalah pendidikan maupun dalam masalah perlakuan pemerintah.[7]

b.                                                b. Muslim di Eropa

Kaum muslimin memasuki benua Eropa ialah sejak adanya permintaan bantuan oleh Graf Yulian seorang bangsawan Gothia Barat yang berkuasa di Geuta Afrika Utara kepada gubernur Afrika Utara Musa bin Nushair agar membantu keluarga “Witiza” menghadapi tentara roderik yang memberontak merebut singgasan Witiza pada tahun 710 M.
Permintaan tersebut selanjutnya oleh Musa disampaikan kepada Khalifah Walid bin Abdul Malik di Damaskus, ternyata dikabulkan dengan pesan agar Musa berhati-hati. Maka sebagai penjagaan dikirim ekspedisi pertama berjumlah 200 orang dipimpin Tharif bin Malik yang mendarat di Tarifa. Keberhasilan Tharif meyakinkan Musa akan kesungguhan Graf Yulian, selanjutnya dikirm pasukan pilihan dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad seorang panglima yang gagah berani melalui kota tanger terus menyebrangi selat yang ganas, yang kini kita kenal dengan nama selat Giblaltar (Jabal Thariq) untuk mengabadikan nama Thariq. Pasukan tahriq mendarat di Spanyol pada tahun 91 H (710 M) tepat disaat konsentrasi pasukan Roderik ke wilayah Spanyol Utara guna memadamkan pemberontakan.
Dengan mudah pasukan Thariq menguasai beberapa benteng. Dengan siasat demikian, maka tidak ada pilihan lain kecuali maju ke medan laga menghadapi musuh yang berlipat ganda jumlahnya. Pada pertempuran di Xeres Rodherik turut tewas yang berarti melapangkan jalan menuju sukses selanjutnya. Kota demi kota berhasil direbutnya, seperti Cordova, Malaga, Toledo ibukota Negeri Ghotia Barat.
Keberhasilan Thariq tersebut mendorong keinginan Musa bin Nushair untuk menyusulnya, dengan membawa tambahan pasukan sebanyak 10.000 orang dia datang ke Spanyol. Di Toledo keduanya bertemu, saat itu sempat terjadi perselisihan, namun dapat didamaikan oleh Khalifah. Keduanya selanjutnya bahu membahu melanjutkan memasuki kota Aragon, Castylia, Saragosa dan Barcelona hingga samapi ke pegunungan Pyrenia. Dalam waktu hanya 7 tahun hampir seluruh Andalusia sudah berada dalam genggaman kaum muslimin, kecuali Glacia.
  • ·         Minoritas Muslim di Spanyol
Pada masa pemerintahan bani Umayah di Damaskus, Andalusia dipimpin oleh Amir (gubernur) diantaranya oleh putra Musa sendiri, yaitu Abdul Aziz. Runtuhnya kebesaran Bani Umayah di Damaskus dengan berdirinya daulah bani Abbasyah di bawah pimpinan Abdul Abbas As Safaf (penumpah darah) yang berpusat di baghdad, yang menyebabkan seluruh keluarga Kerajaan Bani Umayyah ditumpas. Namun, salah seorang keturunan dari Bani Umayah, yaitu Abdur Rahman berhasil melarikan diri dan menyusup ke Spanyol. Di sana dia mendirikan Kerajaan Bani Umayah yang mampu bertahan sejak tahun 193-458 H (756-1065 M).
Kondisi masyarakat Spanyol sebelum Islam mereka memeluk agama khatolik, dan sesudah Islam tersebar luas tidak sedikit dari mereka yang memeluk agama Islam secara suka rela. Hubungan antar agama selama itu dapat berjalan dengan baik karena raja-raja Islam yang berkuasa memberi kebebasan untuk memeluk agamanya masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika disana telah terjadi percampuran darah juga terdapat orang-orang yanng berbahasa Arab, beradat istiadat Arab, meskipun tetap memeluk agama nenek moyang mereka.
Berakhirnya kekuasaan Bani Umayah di Spanyol di bawah kekuasaan dibawah Khalifah Sulaiman, diganti oleh dinasti-dinasti Islam kecil, seperti Al-Murabithin, Al-Muhades (muwahidun) , dan kerajaan bani ahmar. Setelah delapan abad umat Islam menguasai Andalusia pada tahun 898 H (1492 M). Raja Abdullah menyerahkan kunci kota Granada kepada Ferdinand pemimpin kaum Salib, yang selanjutnya beliau menduduki istana Al Hambra, dimana sebelum itu Khalifah Abdullah bersedia menandatangani perjanjian yang terdiri atas 72 pasal, diantara isinya antara lain Ferdinand akan menjamin keselamatan jiwa keluarga Raja Bani Ahmar, demikian pula kehormatan dan kekayaan mereka. Dalam pada itu, kemerdekaan beragama pun akan dijamin terhadap kaum muslimin yang tinggal di Andalusia. Akan tetapi, di kemudian hari perjanjian tersebut diingkari oelh Ferdinand sendiri dan malah mendesak semua pasukan raja Abdullah untuk masuk Kristen, jika menolak diusir dan harta bendanya disita, bahkan dibunuh secara tidak manusiawi.
  • ·         Minoritas muslim di Rusia dan bekas pecahan Uni Soviet
Kaum Muslimin di Uni Soviet meliputi 20% dari 270 juta penduduk seluruh negara. Laju pertumbuhannya merupakan yang tertinggi diantara semua golongan penduduk yang tinggal di sana. Masalah ini masalah serius yang harus dihadapi oleh pemerintah pusat di Uni Soviet, karena dapat menjadi suatu faktor yang menjurus kepada terpecah belahnya republik tersebut. Penganut Islam di Uni Soviet terdiri lebih dari 35 suku yang memakai sekitar 100 bahasa yang berlainan.
Sejarah hubungan orang Rusia dengan orang Islam adalah sejarah mengenai perebutan dominasi sebagaimana yang terjadi di Spanyol, Persia, India, dan Timur Jauh. Orang Rusia pernah dikuasai oleh suku bangsa Tartar yang beragama Islam dari Crimea dan oleh beberapa suku lainnya. Merekalah yang selama berabad-abad berkuasa menetapkan siapa yang memegang tampuk pimpinan di Moskow. Tetapi kini orang Rusia lah yang memegang kekuasaan itu dan menganggap behwa penjajah Tartar Islam itu sangat tidak menyenangkan serta tidak boleh terulang lagi. Berbagai usaha telah dijalankan oleh pemerintah pusat untuk membendung agar agama Islam tidak menjadi anutan yang dominan supaya Komunisme dapat memastarakat di seluruh lapisan penduduk. Agama Islam masuk ke Rusia pada waktu Dinasti Yuan yang berkuasa, kemudian bangkitlah kaum revolusioner muslim untuk menumbangkan dinasti Yuan (1279-1368 M). Setelah dinasti Yuan lalu diganti dengan dinasti Ming. Di bawah kekuasaan Ming, Islam menduduki jabatan penting antara lain, kemiliteran, keintelekan, dan administrasi pemerintahan. Bahkan, seorang muslim yang bernama Sang Yu Chuin menjabat sebagai penasehat agung Kaisar Ming yang pertama dan bernama Hung Yer.
Tatkala Dinasti Yuan masih berkuasa, Kaisar Barkah Khan memeluk Islam. Dengan Islamnya Barkah Khan maka suku Dzahabieh (kelompok orang mongol) banyak yang masuk Islam.
Pada tahun 1313-1340 M, suku Dzahabieh dipimpin oleh Uzbek Khan yang berusaha mengislamkan seluruh suku Dzahabieh. Kemudian beliau membuat strategi untuk menyebar luaskan Islam ke seluruh wilayah Rusia. Peninggalan Islam di Rusia antara lain, bangunan-bangunan tempat beribadah/masjid. Tetapi, keadaan di Rusia sekarang sudah lain karena pemerintahannya berpaham komunis sehingga benci dan ingin membinasakan Islam dari wilayah kekuasaan Rusia. Seperti yang dialami muslim Chechnya akhir-akhir ini akibat dari keganasan tentara komunis Rusia. Chechnya adalah negara kecil di kawsan kaukasus, Rusia yang berpenduduk 1,5 juta dan mayoritas beragama Islam. Presidennya yang bernama Dzhokar Dudayef adalah seorang muslim yang taat.
Sejak tanggal 11 Desember 1994, pasukan Rusia melakukan agresi besar-besaran terhadap Chechnya dan berhasil merebut istana keprisedenan Chechnya, yang merupakan perlawanan dan kemerdekaan Chechnya. Meskipun rumah-rumah mereka hancur, tetesan darah dan air mata tumpah di bumi Islam Chechnya, mereka tetap berjuang melanjutkan perjuangan terhadap komunis dan siap mati untuk agama Islam dan negaranya.
  • ·         Minoritas Muslim Terbesar di Eropa Barat, Perancis.
Islam masuk ke Perancis telah lama sekali, yaitu sejak abad 8 M. Islam masuk ke kota-kota selatan Perancis melalui Spanyol ke  Toulouse, Narbonne dan sekitarnya hingga Bourgogne di tengah-tengah Perancis.  Namun baru pada abad 12 hingga abad 15 orang-orang Islam mulai menempati kota-kota selatan Perancis yang terdapat di provinsi Roussillon, Languedoc, Provence, Pay Basque Perancis termasuk Bearn. Hal ini berlangsung secara bertahap dan puncaknya adalah ketika terjadi pengusiran besar-besaran terhadap muslim Spanyol pada peristiwa Reconquista di bawah raja Ferdinand II dan istrinya ratu Isabelle pada  tahun 1492 M. 
Tahap berikutnya adalah setelah Perang Dunia I dan II. Sebagian Muslim yang masuk ke Perancis adalah para korban perang. ( Palestina, Turki, Tunisia dll ). Sementara sebagian besar lagi datang dari Aljazair sekitar tahun 1960-an karena Perancis membutuhkan sejumlah besar tenaga dalam rangka membangun negaranya yang hancur karena perang. Perlu dicatat, Aljazair adalah satu dari negara bekas jajahan Perancis.
Berdasarkan angket yang dibuat pada Maret 2007, jumlah Muslim di Perancis adalah sekitar 4 hingga 5 juta orang atau 6 % dari total penduduk Perancis.  ( Katholik 64 %, Ateis 27.2 %, Protestan 2.1 % dan Yahudi 0.6 %). Jumlah ini merupakan jumlah terbesar dibandingkan Muslim di negara-negara Eropa lainnya. ( Jerman 2.5 juta, Inggris 1.6 juta, Italy 1.5 juta, Spanyol 1 juta dan Belanda 850 ribu ). Mereka ini sebagian besar adalah imigran, baik legal maupun illegal.    
Setelah itu pemerintah Perancis tidak pernah lagi memiliki keberanian untuk mengadakan angket resmi terhadap jumlah pemeluk Islam di negaranya. Yang pasti ada laporan bahwa sekarang ini telah berdiri  1536 masjid dan mushola di seluruh Perancis. Walaupun tentu saja sebenarnya sebagian besar hanyalah mushola-mushola kecil yang tidak memadai dan letaknya sangat terpencil. Masjid yang tergolong lumayan besar hanya ada beberapa  di kota-kota besar seperti Paris, Lille dan Lyon.
Banyak versi mengenai jumlah Muslim di Perancis. Menurut Departemen Negara Amerika, pada 2006 terdapat sekitar 10% Muslim di Perancis, dimana jajak pendapat yang diadakan setahun setelahnya menunjukkan 3% dari jumlah menduduk nasional.[8] Buku yang diterbitkan oleh Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA), CIA World Factbook, menyatakan ada sekitar 5-10% populasi Muslim di Perancis. Pada tahun 2000, Kementerian Dalam Negeri Perancis memperkirakan ada 4,1 juta orang yang dilahirkan dalam keluarga Islam, dan jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 70 ribu per tahun. Ada juga yang memperkirakan jumlah Muslim di Perancis 7 juta jiwa pada tahun 2009. 
  • ·         Minoritas muslim di Albania
Di tenggara Eropa, yaitu kawasan yang dikenal dengan nama Balkan, terletak Albania. Negara ini memiliki jumlah penduduk 3,5 juta orang, 70% penduduknya beragama Islam dan sisanya Kristen. Luas wilayah sekitar 30 ribu kilometer persegi. Negara ini di masa lampau sempat berada di bawah kekuasaan imperium-imperium besar seperti Yunan, Roma, dan Ottoman. Meskipun pada era pendudukan Romawi Albania sempat menjadi kawasan berpeduduk Kristen, namun menyusul kemunculan Islam, terjalinlah hubungan antara bangsa Albania dengan orang-orang muslim. Dengan berimigrasinya kaum muslimin dan berdatangannya para muballig dan pedagang ke Albania, Islam secara bertahap meluas di Albania.
Sejak awal abad ke 19 sewaktu berlakunya transformasi sosial di Eropa dan melemahnya kekuasaan imperium Utsmani di dalam dan luar, kecemerlangan dan kegemilangan di kawasan Balkan pun berakhir. Penduduk Balkan sejak sejarah ini terperosok ke dalam berbagai peperangan berdarah, dan setiap beberapa tahun mereka mencapai kemerdekaan atau jatuh di bawah kekuasaan salah satu dari kekuatan Eropa.
Perang-perang ini menyebabkan negara-negara Balkan berpecah atau bersatu berdasarkan kepada kepentingan Eropa yang berkuasa. Setelah jatuhnya imperium Utsmani, maka masa terlama bangsa Balkan hidup tanpa peperangan ialah setelah perang dunia kedua, dimana pada periode ini rezim-rezim despotik komunis berkuasa di sebagian besar negara-negara Balkan. Dengan berakhirnya pasang surut ini, umat Islam Balkan yang mayoritasnya tinggal di Bosnia Herzegovina, Albania dan Kosovo berusaha untuk memelihara identitas Islam mereka dan identitas Islam mereka secara total menyatu dengan identitas bangsa dan etnis mereka. Demi untuk memelihara identitas agama ini, ketika terjadi pembersihan etnis yang dilakukan oleh orang-orang Serbia terhadap umat Islam Bosnia dan juga Albania warga Kosovo, banyak darah yang telah tumpah di sepanjang satu dekade.[9]
Pada masa sekarang ini, pengajaran agama Islam secara formal di Albania dilakukan secara terpusat. Dengan kata lain, beberapa lembaga pengajaran tertentu di Albania memiliki tanggung jawab dalam mengajarkan agama Islam kepada para pelajar. Lembaga-lembaga pengajaran ini merupakan pengganti dari sekolah-sekolah agama yang sebelumnya melakukan kegiatan secara terpisah-pisah dan tersebar di setiap masjid. Lembaga pengajaran agama terbesar berlokasi di Tirana, ibukota Albania. Di sekolah agama ini, Islam diajarkan sedemikian rupa agar terhindar dari pertentangan antar mazhab. Lulusan dari lembaga pengajaran ini memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat keislaman kaum muslimin pada era komunis dan akibatnya banyak pula di antara mereka yang dipenjarakanoleh rezim komunis.
Sementara itu, kelompok politik atau partai-partai Islam tidak banyak berdiri di Albania. Mungkin hal ini disebabkan karena panjangnya masa pemerintahan rezim komunis yang sangat represif dan selalu menghalangi kegiatan-kegiatan politik non-komunis. Lembaga Islam terbesar di Albania saat ini,yang juga mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah adalah Komite Muslim Albania. Masrasah Islami Tirana adalah lembaga pengajaranyang berada di bawah Komite Muslim Albania. Di setiap kota, terdapat cabang dari komite ini dan melakukan berbagai kegiatan keislaman di kota tersebut. Selain Komite Muslim Albania, juga ada lembaga-lembaga lain, seperti Organisasi Cendekiawan Muslim, Organisasi Muslimah, atau Organisasi Pemuda Muslim Albania. Selain itu, kaum muslimin Albania juga memiliki sebuah Pusat Dialog Agama, demi menjalin persatuan dan membela hak-hak kaum muslimin di negara ini.
Meskipun Islam adalah agama mayoritas rakyat Albania dan ke-Islam-an telah menjadi jati diri mayoritas rakyat negara itu, namun perhatian yang ditunjukkan pemerintah Albania terhadap perluasan pengajaran Islam tidak memuaskan. Dalam UUD negara ini, Islam tidak disebut sebagai agama resmi negara. Bahkan, dewasa ini tampak usaha-usaha untuk menjadikan negara muslim ini sebagai negara sekuler. Hal ini antara lain merupakan akibat dari letak geografisnya di Eropa, yaitu di tengah negara-negara non Islam dan juga akibat dari sisa-sisa peninggalan era komunis dulu.
  • ·         Muslim-muslim minoritas lainnya di berbagai kawasan di Eropa
Pertumbuhan agama Islam di Eropa sekarang memang cukup sulit jika dibandingkan dengan Islam di Asia-Afrika. Hal ini dikarenakan masyarakatnya sudah terlanjur sekuler, lebih dari itu, umat Islam kerap harus menerima perlakuan diskriminatif dan propaganda anti Islam.
Muslim Denmark, misalnya, harus berjuang puluhan tahun demi mendirikan sebuah masjid yang layak untuk beribadah. Sedangkan di pembahasan sebelumnya, Muslim Albania harus berjuang membangun kembali masa lalunya setelah komunis yang melarang praktek keagamaan atau Muslim Belgia yang seperempat abad lebih berjuang melawan diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Padahal, menilik sejarah perkembangan Islam di Eropa pada masa lalu, Cordoba dan Granada di Spanyol telah menjadi pusat ilmu pengetahun, teknologi dan merupakan kota paling bercahaya kala itu di Eropa dalam penguasaan raja-raja muslim. Ratusan tu bahkan mungkin ribuan ilmuwan lahir, kesenian berkembang dengan pesat. Aspek kesehatan dan kesejahtern rakyat terpenuhi dengan baik. Toleransi antar ummat bergama dijunjung tinggi. Bahkan diceritakan pula kemungkinn Napoleon bonaparte, kaisar Prancis juga sempat memeluk muslim dengan penyajian serangkaian bukti autentik. Kala itu masyarakat Eropa mengalami demam kekaguman yang luar biasa besar pada islam karena keagungannya yang bisa melebihi kejayaan kekaisaran imperium Romawi tempo dulu. Hingga akhirnya karena pergesern tradisi, orientasi dari para pemimpin Muslim itu sendiri. Keagungan keislaman memudar. Masjid-masjid dirubah menjadi gereja. Dan masyarkat Eropa menjadi muslim Phobia karena isu-isu yang dilemparkan oleh orang-orang missionaris. Agama terbesar di Eropa adalah atheisme dan sekularisme karena pemujaan mereka terhadap ilmu pengetahuan dan kekecewaan mereka terhadap agama.[10]
Namun karena kegigihan para mubaligh berdakwah sehingga dalam perkembangannya agama Islam semakin baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Apalagi setelah Paulus Paulus II membuka dialog antar umat beragama, seperti yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh muslim khususnya dari Indonesia dan pada masa hidupnya Paus Paulus II pernah mengundang Meneteri Agama RI untuk menjelaskan praktek kerukunan hidup beragama di tanah air.
Pertumbuhan Islam di Eropa pada masa kini boleh dikatakan pada masa yang baik. Jerman yang merupakan negara kedua penduduk terbanyak muslim di Eropa Barat sebanyak 3,7 juta jiwa orang atau agama terbesar kedua disana yang mayoritas penganutnya merupakan keturunan Turki yang datang ke Jerman. Selain itu, banyak juga penduduk asli Jerman yang menjadi Muallaf, perkiraan kasar menyebutkan ada sekitar 18 ribu hingga 40 ribu jumlah umat muslim yang merupakan warga asli jerman.[11]
Di Belgia, berdiri gedung Islamic Center sebagai pusat kegiatan dakwah Islam. Jumlah umat Islam disana sekitar 150.000 orang. Pada tahun 1980 di Brussel diselanggarakan Mukhtamar Islam Eropa. Sedangkan, di Austria, pada awal abad 15 H. Pada tahun 1979 dibuka Islamic Center di kota wina yang dapat menampung 30.000 jamaah, dilengkapi masjid jami’, perpustakaan Muslim’s Social Service, madrasah dan perumahan imam. Agama Islam diakui agama resmi setelah Kristen.
Di Belanda, tepatnya di kota Almelo telah dibangun sebuah masjid yang megah. Di kota ini pula telah dibentuk federasi organisasi Islam dipimpin Abdul Wahid Van Bomel (bangsa Belanda asli). Bomel memperjuangkan agar buruh-buruh muslim yang umumnya dari Asia Selatan dan Afrika supaya diberi kesempatan melakukan shalat lima waktu. Tanggal 14 oktober 1983 di kota Redderkerk dibangun sebuah masjid yang dapat menampung 500 jamaah dilengkapi ruang diskusi, ruang tamu, tempat wudhu, dan lain sebagainya.
Inggris, termasuk salah satu negara yang cukup bagus pengembangan Islamnya. Hal ini didukung dengan kepeloporannya dalam pemindahan Universitas Islam Toledo di Spanyol ke Inggris. Sejak itu Inggris mempunyai Universitas Cambridge dan Oxford. Mozarabes salah satu tokoh yang amat berjasa dan aktif dalam penyebaran ilmu pengetahuan agama Islam. Ia mengganti namanya menjadi Petrus Al Ponsi, dan beliau menjadi dokter istana Raja Henry I. Pengembangan Islam dilakukan tiap hari libur, seperti hari Sabtu dan Ahad baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa organisasi Islam yang ada di Inggris.
1.     The Islamic Council of Europe (Majlis Islam Eropa) berfungsi sebagai pengawas kebudayaan Eropa.
2.     The Union of Moslem Organization( Persatuan Organisasi Islam Inggris)
3.     The Asociation of British Moslems (Perhimpunan Muslim Inggris)
4.     Islamic Fondation dan Moslem Institute. Keduanya bergerak di bidang penelitian, beranggotakan orang-orang Inggris dan imigran
Di pusat kota London dibangun Central Mosque (Masjid Agung) yang selesai pembangunannya pada tahun 1977 terletak di Regents park, dan mampu menampung 4000 jamaah, dilengkapi perpustakaan dan ruang administrasi serta kegiatan sosial. Disamping itu, orang-orang Islam Inggris juga membeli sebuah gereja seharga 85.000 poundsterling di pusat kota London yang akan dijadikan pusat pendidikan ilmu agama Islam. Pemeluk agama Islam disini selain bangsa Inggris sendiri juga imigran Arab, Turki, Mesir, Cyprus, Yaman, Malaysia dan lain-lain yang jumlahnya ± 1 ½ juta orang (menurut catatan The Union of Moslem Organization), dan disini agama Islam merupakan agama nomor dua setelah Kristen. Al Qur’an pertama kali diperkenalkan di Inggris oleh Robert Katton yang ditejemahkan ke dalam bahasa latin. Kemudian kamus Arab-Inggris pertama disusun sarjana Inggris E.W.Lanes. juga dinegeri Pangeran Charles ini muncul pada tahun 1985 seorang walikota muslim yang Muhammad Ajeeb di stradford Inggris. Dan sejak itu, masyarakat muslim dan mahasiswa Universitas Oxford mendirikan “Pusat Kajian Islam”.
Roma merupakan negeri pusat agama Katolik, disana berdiri sekitar 917 gereja khatolik, protestan, ortodhox, yunani maupun synagoge. Perkembangan Islam dinegeri itu tidak seperti negara-negara Eropa lainnya. Meskipun demikian, sejak tahun 1984 umat Islam berhasil meletakkan batu pertama pembangunan masjid di taman Morst Antene di Pariali, yakni suatu daerah yang tertib di roma. Selama ini umat Islam di Italia baru memiliki mesjid di kota Catania Sicilia, dan pertengahan tahun 1995 mesjid bantuan Arab Saudi itu telah diresmikan pemakaiannya. Jumlah umat Islam di Roma sekitar 30.000 orang, sedang di Italia (selain Roma) berjumlah 29.000 jamaah.
Dua puluh tahun terakhir, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar "kedudukan kaum Muslim di Eropa" dan "dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim." Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Disiarkan di NTV, berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September.[12]

c.                                             c. Muslim Minoritas di Amerika
  • ·         Muslim di Amerika Serikat
Islam masuk ke benua Amerika (kemungkinan) setelah runtuhnya Bani Umayah di Spanyol 1492 M, karena tidak tahan hidup di bawah tekanan Raja Ferdinand sehingga memilih mencari penghidupan di benua baru. Penulis lain menduga bahwa Islam masuk ke benua Amerika dilakukan oleh Colombus dalam pelayarannya dipandu oleh navigator dan ABK yang beragama Islam dari Andalusia atau Maroko, atau adanya pemukiman tawanan muslim sekitar abad 16 sampai dengan abad 18. memang harus diakui bahwa catatan resmi tentang hal ini belum didapatkan, namun orang-orang Afrika dan lain-lain (wilayah muslim) pada akhir abad 19 banyak bermigrasi ke Amerika dan Kanada dengan aneka ragam motif dan tujuan, lebih-lebih setelah Amerika tampil sebagai salah satu negara adidaya maka berdatanganlah mahasiswa-mahasiswa muslim tinggal disana untuk beberapa lama.
Amerika merupakan negara demokrasi liberal sekaligus sekuler atau menganut prinsip pemisahan antara agama dan negara (sparation of church and state) namun sangat luas memberi kebebasan beragama bagi rakyatnya. Semula agama Islam dianggap agama para imigran Timur-Tengah atau Pakistan yang bertempat tinggal di beberapa kota. Kemudian semakin berkembang sehingga muncul suatu kekuatan Islam yang disebut “Black Moslem”. Black Nmoslem didirikan oleh Elijah Muhamad di Chicago. Sesuai dengan namanya Black Moslem mendapat banyak pengikut terutama dari orang-orang yang berkulit hitam. Black Moslem didukung oleh orang-orang berkulit hitam dan berjuang menuntut persamaan hak. Elijah Muhamad dalam organisasinya mengambil prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang tidak membedakan warna kulit.
Selama dalam pimpinannya perkembangan agama Islam semakin luas. Hal itu terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh yang masuk Islam, seperti Malcom seorang tokoh nasional Negro Amerika sebagai orator ulung dan Casius Clay bekas juara tinju kelas berat. Malcom setelah masuk Islam namanya diganti Al-Haji Malik Al-Sabah. Sedang Casius Clay berganti nama menjadi Muhamad Ali. Elijah berdakwah melalui media masa dengan menerbitkan majalah Muhammad Speak pada tahun 1960. ia mengajarkan bahwa tuhan itu ada pada diri pribadi “wallace fard”. Muhammad dan dirinya sebagai nabi Black Moslem. Ia meninggal tanggal 25 februari dan digantikan putranya yang bernama wallace Muhammad atau Warisudin Muhammad. Selama dalam kepemimpinan Warisudin, agama Islam bertambah maju tidak hanya dipeluk oleh kalangan orang-orang yang berkulit hitam, namun berkembang dalam kalangan masyarakat nasional Amerika. Ajaran yang disampaikannya ialah agama Islam bukan hanya untuk orang-orang berkulit hitam saja, tetapi untuk seluruh manusia apapun warna kulitnya. Ia juga mengadakan pembaruan dan meluruskan ajaran-ajaran yang kurang tepat, diantaranya
  •       Pembenahan di bidang Akidah, ia menegaskan bahwa Fard Muhammad bukan Tuhan dan Elijah Muhammad bukan nabi, dia mantapkan dua kalimah syahadat kepada para pengikutnya.
  •     Tata tertib di dalam mesjid ia benahi, yang dulu didalamnya terdapat kursi-kursi sebagai pengaruh Kristen ditiadakan, juga puasa di bulan desember diganti secara bersama di bulan Ramadan.
Pada tahun 1976 Walaace Muhamad (Warisudin Muhamad) merubah nama Nation of Islam menjadi World Comunity of Islam in West. Perubahan nama itu dimaksudkan agar sasaran ajaran dan dakwa agama Islam lebih luas lagi jangkauannya. Pada tahun itu juga ia telah membentuk majelis imam (Council of Imam) terdiri atas enam orang yang mengkoordinir kegiatan-kegiatan keagamaan. Majalah Muhammad Speak diubah menjadi Bilalian News mengambil nama dari sahabat Bilal bin Rabah.
Tanggal 30 april 1980 organisasi World Comunity of Islam in West diganti namanya menjadi American Muslim Mission (AMM) agar lebih jelas misi organisasi tersebut sebagai dakwah. Di Chicago terdapat Islamic Institute yang berasal dari gereja yang sudah dibeli. Gedung tersebut lengkap dengan Mushola, ruang kuliah, aula, asrama, perpustakaan, ruang makan dan dapur sebagai proyek organisasi Konferensi Islam Internasional di Jeddah. Di Los Angeles terdapat Islamic Center sebagai pusat ceramah agama untuk umum, kuliah minggu pengajian anak-anak, kursus bahasa Arab dan lain sebagainya. Di Mansfield, Indianapolis Amerika terdapat suatu organisasi bernama Islamic Society of Nort of America (ISNA) yang telah memilki sebidang tanah seluas 100 hektar. Diatas tanah tersebut dibangun sebuah masjid yang dapat menampung 1000 jamaah lengkap dengan perpustakaan, ruang studi dan lain sebagainya.
ISNA mengkoordinir organisasi-organisasi mahasiswa seperti Muslim Student Asociation (MSA), organisasi dokter musli, dan sarjana muslim. MSA sudah memiliki kantor tempat penerbitan buku, yaitu MSA Islamic Book Service, studio rekaman, memproduksi film-film tv dan percetakan. Majalah yang diterbitkan bernama Al-Ijtihad (persatuan). Di California berdiri sebuah madrasah Al-Madina, madrasah ini pada tahun 1972 hanya memiliki 42 anak, namun pada tahun berikutnya bertambah menjadi 105 anak. Hal ini menunjukan perkembangan Islam disana cukup baik. Dalam madrasah Al-Madina diajarkan semua ilmu agama, bahasa Arab, matematika dan Al Qur’an.[13]
  • ·         Muslim di Argentina
Di Buenos Aires, ibu kota Argentina, telah berdiri sebuah masjid besar pada tahun 1989. Masjid itu kini menjadi pusat kegiatan ibadah dan dakwah umat Islam di sana. Di beberapa kota di Argentina, kini juga berdiri masjid-masjid kokoh dan megah. Jumlahnya sudah mencapai puluhan.
Syiar Islam semakin marak di Argentina setelah sebuah pusat kajian Islam yang diberi nama The King Fahd Islamic Cultural Center, dibangun pada tahun 1996. Bangunan pusat kajian Islam ini terletak di permukiman kelas menengah di wilayah Palermo, Buenos Aires. Proyek yang merupakan kerja sama pemerintah Argentina dan Arab Saudi ini dibangun di atas lahan seluas 34 ribu meter persegi. Pusat kajian ini dilengkapi dengan bangunan masjid, perpustakaan, dua buah sekolah, taman, dan lahan parkir.
Di tempat ini, biasanya umat Islam berkumpul dan mengkaji seputar keilmuan dan budaya Islam. Terlebih pada bulan Ramadhan, senandung budaya dan nilai-nilai Islam begitu marak dikumandangkan.
Mengenai jumlah umat Islam di Argentina, memang sulit ditemukan angka yang pasti. Beberapa sumber data menyebutkan angka yang berbeda. Menurut catatan The CIA World's Fact Book, pada tahun 2004, dari total penduduk Argentina yang mencapai 39.144.753 jiwa, hanya dua persen yang memeluk Islam, yaitu sekitar 782.895 jiwa, selebihnya adalah pemeluk Katolik Roma, Protestan, dan Yahudi. Sedangkan Katolik Roma, merupakan agama mayoritas di negara yang terkenal dengan tarian tangonya itu.
Kendati demikian, menurut laporan salah satu harian di Argentina, Clerein, warga Argentina yang baru masuk Islam sekarang ini bertambah menjadi 900 ribu orang. Dan, jika kaum imigran Muslim yang ada di sana dijumlahkan secara keseluruhan, bisa mencapai lebih dari tiga juta orang. Sehingga, estimasi populasi Muslim di Argentina meningkat dari yang semula 700 ribu kini menjadi lebih dari tiga juta jiwa.
Peningkatan populasi Muslim di Argentina diakui Pusat Kajian Islam di Argentina, Centro de Estudios Islamicos, lembaga yang fokus pada dakwah dan kajian budaya Islam di Argentina. Lembaga ini menyebutkan pada abad ini agama Islam berkembang pesat di Argentina, indikasinya adalah dengan semakin banyaknya pemeluk agama Islam.
Masyarakat Argentina banyak yang mulai tertarik dengan Islam. Tudingan yang gencar dilakukan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya pada umat Islam, sejak tragedi 11 September 2001, sebagai pelaku terorisme global, memang sempat membuat umat Islam di Argentina dicurigai. Namun, begitu setelah dilakukan dialog dua arah, ketegangan dan rasa curiga hilang dengan sendirinya dan berbagai tudingan negatif yang dilayangkan kepada umat Islam, tidak begitu digubris masyarakat Argentina. Sementara umat Islam di Argentina, telah menunjukkan jiwa kenegarawan dan nasionalisme yang tinggi. Hal inilah yang menjadikan gairah dakwah Islam semakin meningkat di sana.
Seperti umumnya umat Islam di dunia, kaum Muslim di Argentina juga melakukan keseharian berdasarkan profesi masing-masing. Mereka bekerja dari pagi hingga sore hari. Bagi kaum metropolis, mereka menjalankan ibadah dengan tidak meninggalkan kewajiban mereka sebagai kaum profesional. Sementara bagi mereka yang tinggal di pedesaan, mereka hidup rukun dan berdampingan. Saat senja tiba, mereka berkumpul kembali di rumah. Umumnya, karena letak masjid berjauhan dengan lokasi rumah, mereka melakukan shalat Magrib bersama keluarga di rumah masing-masing.
Peran kaum pendatang dari Timur Tengah, seperti Suriah dan Lebanon, menjadikan dakwah Islam di Argentina terlihat kian ramai. Para pendatang itulah yang justru banyak memperkenalkan Islam kepada penduduk Argentina. Mereka bermigrasi ke wilayah Argentina pada awal abad ke-20, dan membentuk permukiman di tengah-tengah penduduk asli. Mereka hidup rukun dan damai tanpa ada rasa curiga dan permusuhan.
Di antara imigran Arab yang terkenal adalah keluarga Menem, yang berasal dari Suriah dan pemeluk Islam. Mantan presiden Argentina, Carlos Menem, merupakan salah satu keturunan keluarga imigran Suriah ini. Meski leluhurnya adalah pemeluk Islam, ia sendiri merupakan seorang penganut Katolik Roma. Karena faktor agama inilah, Carlos Menem diizinkan untuk ikut mencalonkan diri sebagai presiden Argentina. Dalam aturan konstitusi yang berlaku, presiden Argentina haruslah seorang pemeluk Katolik Roma. Namun, aturan ini dihapuskan dalam reformasi konstitusi tahun 1994.
Diperkirakan, saat ini terdapat sekitar 3,5 juta penduduk Argentina keturunan Arab. Para keturunan Arab Argentina ini tidak hanya memeluk agama Islam, tetapi juga pemeluk Kristen dan Yahudi. Bahkan, bisa dikatakan sebagian besar keturunan imigran Arab ini adalah orang Kristen serta Yahudi, dan mungkin hanya kurang dari seperempat keturunan imigran Arab yang benar-benar Muslim.[14]
  • ·         Muslim di Suriname
Data statistik sensus penduduk Suriname tahun 2004 menunjukkan bahwa Islam di Suriname mencapai 66,307 jiwa (13,5 % dari jumlah penduduk), menduduki peringkat ketiga setelah agama Kristen, 200,744 jiwa (40,7 %) dan Hindu, 98,240 jiwa (19,9 %). Dari seluruh umat Islam di Suriname, yang terbanyak berasal dari suku Jawa, 46,156 jiwa (69,6 %) dan yang lain dari Hindustan, 15,636 jiwa (23,6 %) dan suku-suku lain. Pada mulanya secara umum masyarakat muslim Suriname memeluk agama sekedar mewarisi agama nenek moyang. Hal itu terjadi karena mereka memang datang ke Suriname tidak mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pada kasus masyarakat muslim Jawa umpamanya, kebanyakan mereka berasal dari tradisi agama Islam Jawa Abangan yang hanya mengenal Islam sekedar nama dan lebih kental dengan unsur tradisi dan budaya Jawa. Hal itu terlihat umpamanya, kenapa hingga sekarang sebagian masih mempertahankan shalat menghadap ke barat seperti nenek moyang mereka dari Jawa, padahal Suriname berada di sebelah barat Ka'bah.
Namun sejalan dengan perkembangan zaman, pemahaman Islam semakin membaik, dan kesadaran untuk beragama Islam secara kâffah (komprehensif) semakin meningkat, maka umat Islam Suriname semakin menunjukkan jati dirinya. Islam tidak lagi dijadikan sebagai agama warisan nenek moyang, tapi dipeluknya dengan seutuh kesadaran. Lambat laun Islam tidak saja dijadikan sebagai agama tradisi nenek moyang, tapi menjadi sebuah jalan kebenaran untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Fenomena seperti itu dapat dengan mudah kita temui di mana-mana, di kota dan kampung, di pasar dan jalan-jalan. Berbusana muslim / muslimah menjadi pemandangan yang biasa di tengah-tengah gempuran model busana Barat yang mengumbar aurat. Sahut menyahut ucapan salam simbol Islam (Assalâmu'alaikum warahmatullâhi wa barakâtuh) antara muslim Jawa dengan muslim Hindustan atau Creool, menjadi budaya mereka yang menggambarkan betapa suasana ukhuwwah dan silaturrahmi itu dibangun begitu indah. Bahkan tidak jarang persahabatan itu berlanjut dengan membangun hubungan keluarga dengan menikahnya muslim Jawa dengan muslimah Hindustan umpamanya.
Kondisi keberagamaan masyarakat muslim Suriname yang semakin tercerahkan itu bukan terjadi dengan sendirinya. Peran lembaga-lembaga organisasi sosial, yayasan dan masjid dalam melakukan perubahan sikap keberagamaan itu begitu besar. Berbagai kegiatan dilakukan dalam upaya menghidupkan api Islam di Suriname dari yang paling tradisional sampai yang paling modern, dari yang baru tahap mengajarkan membaca huruf-huruf Arab, hingga upaya pengenalan Islam melalui seminar dan simposium, radio, televisi dan internet. Dakwah bukan saja untuk umat Islam tapi juga meluas ke semua anak negeri. Geliat itu begitu terasa hingga pemeluk Islam bukan saja orang Jawa dan Hindustan, tapi juga satu persatu orang-orang Negro dan kulit putih pun mencintai Islam. Masjid masyarakat Creool yang terkenal adalah Masjid Shadaqatul Islam di kota Paramaribo.
Perserikatan milik umat Islam keturunan India, Suriname Muslim Associatie (SMA), memiliki andil besar dalam menyalakan cahaya Islam di Suriname. Organisasi ini memiliki masjid terbesar di kota Paramaribo dibambah dengan 14 masjid lain yang berada dalam binaannya. Organisasi yang bermazhab Ahli Sunnah wal Jama'ah al-Hanafi itu mengelola sekolah-sekolah dan 2 panti asuhan anak yatim yang cukup bagus. Meskipun dikelola oleh para pengurus dari keturunan India, tapi terbuka kegiatannya untuk seluruh umat Islam, bahkan salah satu imam Masjid Terbesar itu adalah seorang ustadz dari keturunan Jawa, dan para pengajarnya juga ada yang berlatar belakang keturunan bukan India.
Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), Yayasan Islam Suriname, adalah lembaga paling berpengaruh di Suriname dari kalangan suku Jawa yang membawa obor perubahan bagi kebangkitan Islam. Lembaga ini memiliki masjid utama, Masjid Nabawi, dengan 54 masjid lainnya berada dalam binaannya tersebar luas di distrik Paramaribo dan distrik-distrik lain. Empat sekolah (madrasah) formal yang didirikan sejak tahun 80-an menjadi cikal bakal bagi proses pengkaderan dan penempaan sejak dini tentang kesadaran beragama Islam. Sekolah-sekolah itu diikuti oleh murid-murid dari berbagai suku dan agama, tidak hanya Jawa dan Islam. Di madrasah-madrasah itu, apapun latar belakangnya, semua harus mengikuti pelajaran Islam dan kepribadian muslim. Dakwah yang sangat strategis. Mereka yang non-Islam memeluk Islam ketika sekolah atau seusai mengikuti pendidikan. Bahkan keluarga mereka pun akhirnya ikut memeluk Islam seperti anak-anak mereka yang belajar di sekolah-sekolah itu. Dakwah yang lain dilakukan dengan membangun panti asuhan anak yatim dan panti jompo.
Masjid Nabawi dan masjid-masjid lain menjadi pusat kegiatan Islam bagi masyarakat Islam lebih luas. SIS mengelola masjid-masjid itu tidak sekedar sebagai tempat ibadah shalat. Kegiatan rutin mingguan setiap Kamis malam Jum'at dalam bentuk pengajian dan ceramah dilakukan tidak saja dalam rangka pengayaan pemahaman terhadap ajaran Islam, tapi juga sebagai media memperkokoh ukhuwah di kalangan jama'ah serta dalam rangka membangun shaff wâhid (barisan satu) seakan mereka sebagai bunyân marshûs (bangunan yang kokoh). Masjid-masjid juga digunakan sebagai taman pendidikan al-Quran yang peserta didiknya tidak saja di kalangan anak-anak dan remaja, tapi juga di kalangan para pensiunan dan manula (manusia lanjut usia).
SIS mempelopori gerakan pembaruan Islam di kalangan masyarakat Jawa. Kaum Abangan Jawa yang tadinya sangat kental dengan tradisi kejawen dan shalat menghadap ke barat, lambat laun dirubah menjadi masyarakat muslim dengan pemahaman yang lebih baik. Organisasi kalangan Jawa Abangan (Ngulonan, karena shalat menghadap ngulon, barat), seperti Federatie van Islamitische Gemeenten in Suriname (FIGS) terus menerus diajak dialog secara kelembagaan ataupun pribadi-pribadi hingga satu-persatu menemukan kebenaran itu. Bahkan para pemimpin Ngulonan pun, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran itu dan mudah-mudahan segera dibukakan pintu hidayah. Maka muncullah masjid-masjid baru dengan gerakan pencerahan Islam yang menjadi pusat bagi terbitnya cahaya Islam, seperti masjid Ansharullah, masjid Asy-Syafi'iyah Islam, masjid Rahmatullah Islam, dan lain-lain.
Gerakan al-rujû' ila al-Islâm (kembali kepada Islam) dengan kesadaran untuk menerapkan Islam secara kâffah (komprehensif) dalam segala lini kehidupan, telah dilakukan oleh lembaga SIS sejak tahun 1980-an. Yaitu seiring dengan kedatangan para da'i yang berjuang bagi kebaikan Islam dan saudara muslimnya di Suriname. Ustadh Sobari Muhammad Ridwan (kini ketua SIS), asal Banyumas yang bermukim lama di Masjid Haram Makkah sebelum berdakwah di Suriname, datang ke Suriname tahun 1981. Beliau berdakwah tidak kenal lelah dari rumah ke rumah, kampung ke kampung, menjelaskan bagaimana ajaran Islam itu. Islam tidak sekedar agama warisan dan tradisi nenek moyang. Islam adalah ajaran hidup yang memberikan kebahagiaan bagi pemeluknya. Kaum muslimin harus bangga dengan agamanya, mengerti benar ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sosial. Datang pula para da'i, Ustadz Ali Ahmad (asal Jawa Tengah, kini telah pensiun dan tinggal di Belanda), Ahmad Mujib (telah pulang ke Bekasi beberapa tahun lalu), Ahmad Muslih (telah pulang ke Semarang setelah pensiun). Datang pula Ustadz Abdul Ghafir yang kini kiprahnya tidak saja untuk organisasi SIS, tapi masuk di kalangan muslim Ngulonan dan masyarakat Hindustan dengan penguasaan bahasa Belanda yang sangat bagus. Beliau aktif mengajar dan berdialog dengan pemuda dan mahasiswa di kampus-kampus, juga tekun mengajar ngaji bapak-bapak pensiunan dan manula dari masjid ke masjid. Datang pula Ustadz Ali Arifin Thalhah, alumni Libiya, asal Padang yang datang ke Suriname tahun 1983. Pada waktu datang, tak sepatah kata pun mampu mengucapkan bahasa Jawa. Tapi kini bahasa Jawanya lebih halus dari orang Jawa, bahkan bahasa Taki-taki, Hindustan, dan Belanda menjadi bahasanya dalam mengajar, ceramah, dan berdialog. Ustadzh yang pernah mempunyai rumah makan Padang satu-satunya di Suriname itu dengan lincah dapat masuk di komonitas masyarakat Jawa, Hindustan, dan Creool dengan menggunakan bahasa mereka.
Generasi berikutnya adalah para ustadz yang datang dari anak-anak Jawa warga negara Suriname sendiri, seperti Ustadz Mahfudz Sarijadi (aktif sebagai militer dan berdakwah di kalangan militer dan sipil), Ustadzh Abdul Ghaffar (ketua lembaga forum umat Islam yang membawahi organisasi-oraganis asi Islam dari berbagai latar suku). Kedua ustadz tersebut alumni Indonesia dari Pondok Modern Gontor. Datang pula kader-kader yang disekolahkan di Timur Tengah dari anak-anak Jawa Suriname, seperti Ustadz Marcel (kini pimpinan Masjid Darul Falah, penghulu dan penyiar radio Garuda berbahasa Jawa), Ustadz Stanly Suro Raharjo (ketua Bidang Agama Islam Departemen Dalam Negeri Suriname), Ustadz Henry Waluyo dan lain-lain.[15]


d.                                  d. Minoritas Muslim di Kawasan Oceania (Pasifik)
  • ·         Muslim di Australia
Islam masuk ke Australia pada abad 19 M, dibawa oleh para pengembara dari Afganistan yang setiap melakukan perjalanan hanya berbekal tikar untuk shalat. Para pengembara Afganistan tersebut lama-lama mampu mendirikan masjid di Broken Hill dan New South Wales dari bahan kayu, selanjutnya ke Perth ibukota Australia Barat dan Adelaide ibukota Australia Tengah. Tahun 1924 pendatang dari Albania sebagai petani tembakau di Australia Utara meningkatkan perkembangan Islam disini. Kemudian sesudah berakhir perang dunia II orang-orang Yugoslavia yang belajar di Australia Tengah dipimpin Imam Ahmad Saka lebih menggiatkan pembangunan masjid-masjid di Adelaide sebagai pusat aktivitas keagamaan. Menurut catatan statistik tahun 1975 Australia berpenduduk 13.130.000 orang yang 1 % nya (132.000) beragama Islam.
    Perkembangan Islam di Australia dapat dilihat dari segi pembangunan mesjid, tempat pendidikan dan organisasi Islam
a. Pembangunan Masjid
  Ø  Pada abad 20 M perkembangan masjid-masjid di Austrlia cukup menggembirakan,         karena dibuat oleh arsitek Australia sendiri, seperti Brisbone tahun 1907 didirikan mesjid yang indah oleh arsitek sharif Abosi dan Ismeth Abidin.
Ø  Tahun 1967 di Quesland didirikan masjid lengkap dengan Islamic Center dibawah pimpinan Fethi Seit Mecca
Ø  Tahun 1970 di Mareeba diresmikan masjid yang mampu menampung 300 jamaah dengan imam Haji Abdul Lathif.
Ø  Di kota Sarrey Hill dibangun Masjid Raya Faisal bantuan Saudi Arabia
Ø  Di Sidney dibangun masjid dengan biaya 900.000 dollas AS.
b. Tempat Pendidikan
              Di Brisbone didirikan “Quesland Islamic Society” untuk menyadarkan anak-anak muslim mendirikan shalat dan meningkatkan silaturahmi. Pelajarnya berasal dari Indonesia, India, Pakistan, Turki, Afrika, Lebanon dan Australia sendiri. Kemudian di Goulbourn didirikan “Goulbourn College of Advanced Education” yakni pendidikan guru yang telah melahirkan sarjana muda, sarjana lengkap master. Tokoh Goulbourn College antara lain Dr. El-Erian (pelarian dari Mesir ketika Gamal Abdul Nasser berkuasa).
c. Organisasi Islam
Ø Australian Federation of Islamic Councils (AFIC) adalah himpunan dewan-dewan Islam Australia berpusat di Sydney
Ø Federation of Islamic Societies adalah Himpunan masyarakat muslim, terdiri atas 35 organisasi masyarakat muslim lokal dan 9 dewan Islam negara-negara bagian.
Ø Moslem Student Asociation adalah himpunan mahasiswa muslim yang menerbitkan majalah “Al-Manaar” berbahasa Arab, Australia dan Mimaret (berbahasa Inggris)
Ø Moslem Women’s Center (pusat wanita Islam) yang bertujuan memberikan pelajaran keislaman dan pelajaran bahasa Inggris bagi kaum muslimin yang baru datang ke Australia sedang bahasa Inggrisnya kurang lancar.

  • ·         Muslim di Papua New Guinea
Orang-orang yang saat ini Papua Nugini dan Papua Barat berdagang dengan Cina dan kerajaan malay, yang terakhir yang beragama Islam, dimulai pada abad ke-16. Pada tahun 1988, umat Islam di Papua Nugini mendirikan pusat Islam pertama, dengan bantuan dari Malaysia berbasis organisasi Islam dan Kementerian urusan Islam Arab Saudi. Pada tahun 1996, tiga pusat Islam didirikan, dengan bantuan dari Liga Muslim Dunia. Sekarang ada tujuh pusat-pusat Islam di negara ini. Masjid pertama yang dibangun di Port Moresby, dengan kapasitas untuk menyimpan hingga 1.500 jamaah.
Saat ini, ada sekitar 4.000 Muslim di negeri ini, dengan banyak memeluk kepercayaan ini dalam beberapa tahun terakhir. Dalam beberapa tahun terakhir, pejuang dari milisi Islam Laskar Jihad muncul di negara tetangga Papua sepanjang perbatasan bersama.
Di Papua Nugini, gerakan-gerakan misionaris Islam baru mulai berkembang. Ada kantong-kantong Muslim di sekitar Port Moresby, di Baimuru, Daru, Marchall Lagoon, yang Musa Valley dan di pulau New Britain dan New Irlandia yang sedang mengalami pertumbuhan yang paling pesat.[16]

e.  e.                                      Minoritas Muslim di Afrika
  • ·         Muslim di Tanzania
Islam masuk ke Afrika Timur (Tanzania, Uganda dan Kenya) pada abad ke-8. Para arkeolog telah menemukan beberapa peninggalan Islam, antara lain koin emas, perak dan tembaga terbitan tahun 830, dan sebuah masjid tertua di Kizimkazi, tenggara Zanzibar, dibangun pada tahun 1007. Pada tahun 1332, Ibn Batuta pernah berkunjung ke Tanzania dsan Zanzibar, dan menyatakan bahwa hampir sebagai besar penduduk pantai Afrika Timur adalah Muslim, dan bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa literature dan perdagangan. Ketika itu, lautan India disebut sebagai ‘Laut Muslim’.
Sultan Sayyid Said dari Dinasti Busaid yang berkedudukan di Muscat, Oman, pada tahun 1832 pernah memimpin Zanzibar, dan kesultanan ini bertahan hingga 132 tahun. Pengaruh kesultanan Sayyid Said berkembang hingga mencapai Kenya dan negara-negara pantai timur Afrika lainnya. Karena pengaruh yang sangat kuat, bahasa Arab diadopsi oleh penduduk asli Tanzania dan Zanzibar (Negro Bantu) menjadi bahan dasar bahasa lokal dengan sebutan Kiswahili atau Swahili. Mereka menyebutnya sebagai Afro-Islamic Language. Mereka sangat bangga karena bahasa Swahili menjadi salah satu dari tujuh bahasa utama di dunia. Bahasa Swahili sebagai bahasa komunitas Islam Afrika Timur diadopsi oleh banyak negara Afrika, antara lain Kenya, Uganda, Kongo, Madagaskar, Mauritius, dan beberapa suku di Afrika tengah dan barat.
Karena politik devide at impera yang diterapkan oleh Inggris, pada akhirnya umat Islam di Tanzania, di luar Zanzibar, tertinggal sangat jauh dengan ummat Kristen dalam mengejart pendidikan, yaitu 1 : 10, walaupun jumlah penganut Islam lebih banyak dibanding penganut Kristen 35% : 30%.
Membicarakan Islam di Tanzania, berarti membicarakan Zanzibar sebagai tempat bermulanya Islam menyebar di Afrika Timur. Pada masa kolonial, Islamisasi di Tanzania datang dari Zanzibar, ketika itu dipelopori oleh Sheikh Muhyidin bin Sheikh bin Abdullah al-Qahtany (1789-1869). Beliau adalah Perdana Menteri sekaligus Chief Qadhi (ketua Hakim) di Zanzibar pada pemerintahan Sultan Said bin Sultan. Al-Qahtani banyak menulis buku dalam bahasa Arab, antara lain Takalibun al-Haruf. Buku ini sangat terkenal di Barat, karena membahas mengenai grammar bahasa Arab (nahw). Kitab lainnya yang terkenal di Barat yang ditulis oleh al-Qahtany adalah as-Sulwa fi Akhbar Kilwa.
Islam di Zanzibar memang sangat hebat dan mayoritas (95%), namun gangguan tetap muncul dari kaum Nasrani. Karena perkembangan Islam di Zanzibar maupun Tanzania, dianggap sebagai ancaman bagi perkembangan agama Katholik. Oleh karena itu mereka mengobarkan perang Salib (crusade). Yulius Nyerere, bersama Milton Obote, Presiden Uganda, dan Yomo Kenyatta, Presiden Kenya, sangat gigih mengobarkan perang salib ini. Salah satu bukti sejarah yang penting untuk dicatat adalah ketika John Okello, seorang Kristen militant dari Uganda, pada tanggal 11 Januari 1964 tengah malam menyerang Zanzibar. Okello dibantu para martir dari Tanganyika (sekarang Tanzania), Kenya, Uganda, Zimbabwe, Malawi dan Mozambique serta merta membantai 13.635 penduduk Muslim.
Gerakan bawah tanah Okello di Zanzibar ini terinspirasi oleh pemikiran Oscar Kambona, tangan kanan Yulius Nyerere, yang menyatakan pada Second World Conference of Churches tahun 1910, bahwa Islam merupakan ancaman terbesar bagi perkembangan agama Katholik di Afrika Timur. Oleh karena itu perkembangannya harus dihalangi. Rangkaian kejadian yang memusuhi keberadaan Islam di Tanzania, atau Afrika Timur pada umumnya, tak lepas dari peran Yulius Nyerere, mantan Presiden dan Bapak Tanzania. Oleh ummat Islam Tanzania dan Zanzibar, Yulius Nyerere dianggap sebagai ‘otak’ (mastermind) gerakan bawah tanah (clandestine) Revolusi Zanzibar yang dikobarkan oleh John Okello.
Namun dengan kejadian ini, bukan berarti ummat Islam di Tanzania (termasuk) mengendur menghadapi ‘keganasan’ ummat Katholik, sebaliknya, mereka semakin gigih memperjuangkan keberadaan Islam di sana, termasuk memperjuangkan hukum islam di seantero Tanzania. Pada tahun 1988 demonstrasi yag diusung oleh kalangan muda Islam untuk memperjuangkan hukum Islam pecah di Zanzibar Tanzania. Akhirnya banyak tokoh Islam yang ditangkap antara lain adalah pemimpin karismatik Seif Shariff Hamad dam keenam koleganya. Mereka dianggap musuh negara, namun pejuang muda Muslim Tanzania dan Zanzibar menyebut mereka ‘pahlawan besar’.
Perjuangan ummat Islam di Tanzania tak beda dengan perjuangan ummat Islam di belahan dunia lainnya, karena secara geopolitik mereka menghadapi musuh yang sama, yaitu Barat (baca: Kristen), yang pengaruhnya menggurita ke mana-mana. Oleh karena itu, diperlukan keberanian yang luar biasa untuk melawannya, karena secara geopolitik pula, pihak Kristen mempunyai segala-galanya: politik, uang, senjata dan sumberdaya manusia yang nyaris sempurna.[17]
  • ·         Muslim di Nigeria
Islam dianut oleh 50% dari total penduduk Nigeria, dan Islam mempunyai sejarah yang panjang, dan hampir menguasai seluruh Nigeria pada abad ke-11 s/d abad ke-19, sebelum kolonial Inggris menguasai Nigeria, khususnya Nigeria Utara. Penyebaran Islam di Nigeria dibagi dalam tiga periode, yaitu periode Trans Sahara dan Afrika Utara, periode Atlantik dan periode kemerdekaan.
Pada masa Trans Sahara dan Afrika Utara, bermula ketika Uqba ibn-Nafi’, sebagaimana diceriterakan oleh Ibn Abdalhakam pada tahun 667 Masehi datang ke Sahara Tengah, dan membuka rute perdagangan ke Kanem-Borno, Nigeria Utara, termasuk di dalamnya adalah perdagangan budak. Pada saat itu, perdagangan budak Afrika sangat terkenal, dan mengundang orang Barat untuk ikut ‘mencicipinya’. Rute perdagangan ini dilanjutkan oleh anak laki-l;aki Uqba, yaitu Ubaidillah ibn al-Habhab sampai ke Kerajaan Ghana karena adanya perdagangan emas, dan berlanjut sampai dengan abad ke-11. di samping melakukan perdagangan, para pedagang Muslim juga memperkenalkan misi utama ajaran Islam, yaitu mengembangkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan.  Dengan cara demikian, akhirnya Islam dapat berbaur dengan masyarakat setempat.
Islam berkembang sangat pesat di seluruh Afrika Barat, tidak hanya di Nigeria, sehingga bahasa Arab dijadikan sebagai komunikasi internasional di kawasan itu sampai dengan abad ke-15, seiring dengan kemenangan Islam di Andalusia (sekarang Spanyol). Ketika Portugis memasuki Afrika Barat pada abad ke-15, dalam rangka perdagangan budak, maka penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi mulai berkurang. Hal ini berlanjut sampai dengan masuknya Perancis dan Inggris pada abad ke-19. Dua negara terakhir inilah yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Afrika Barat.
Kerajan Mali dan Songhay mempunyai peran sangat penting dalam mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nigeria Utara yang dipelopori suku Hausa dan Fulani, antara lain di Kano dan Katsina (abad ke-14 dan 16).
Masa orientasi Atlantic, Maroko menginvasi Kerajaan Mali-Songhay pada tahun 1591, namun jauh sebelum itu, Kerajaan Otoman Turki telah lebih dulu menguasai Mesir dan Aljazair pada tahun 1517 dan 1525.  Pada saat bersamaan, muncul kerajaan baru di Benin, Oyo, Dahomey dan Ashante, disusul kemudian kerajaan Bambara yang masih dikuasai oleh animisme. Komunitas Muslimn di wilayah tersebut mulai mengadakan jihad. Jihad pertama dilakukan oleh Uthman Don Fodiye pada tahun 1804 di Sokoto, yang meminta kepada pemerintah Sokoto yang dikuasai oleh suku Hausa memberlakukan ajaran Islam. Peradagangan budak semakin menipis, dan Eropa menghentikan kebutuhan akan budak, dan akhirnya kerajaan Oyo jatuh.
Namun ketika kolonial Inggris mulai merasuk di Nigeria, kehidupan komunitas Islam di sana mulai terjepit. Dimulai ketika diberlakukan Pax Brittanica yang mengatur agar setiap muslim yang akan bepergian atau membangun masjid harus mendapatkan izin dari pemerintah kolonial. Namun sebaliknya, bagi pemeluk Kristen tidak dikenakan izin serupa. Kerajaan Sokoto dan Borno mulai invalid, namun komunitas muslim menyebar ke Selatan, yaitu ke Etsako, Niger-Benue dan kota-kota wilayah Yoruba, semisal Ogbomoso, Oyo, Ibadan, Sagamu, Ijebu-Ode dan Abeokua. Budak-budak muslim yang berasal dari suku Hausa menyatu secara sosial-politik di kota-kota tersebut dan menjadikan Islam sebagai symbol Yoruba untuk menolak intrusi kebudayaan Inggris.
Pada masa kemerdekaan, seorang tokoh Muslim dari Kekhalifahan Sokoto mendapatkan kesempatan menjadi Perdana Menteri Pertama Nigeria, yaitu Alhaji Tafawa Balewa. Namun sebenarnya tokoh kunci yang sangat berperan dibalik kesuksesan Tafawa Balewa adalah Ahmadu Bello. Tokoh ini mempunyai kedekatan dengan Rabitah Alam Islami (Muslim World League) dan pemerintah Saudi Arabia, sehingga beliau sangat mudah mendapatkan bantuan untuk kemajuan Islam di Nigeria.
Namun kesuksesan Ahmadu Bello membuat berang penganut Kristen di Selatan, sehingga mereka melakukan kudeta berdarah pada tahun 1966 yang dipimpin oleh Jendral Jacubus GOWON, yang mengusung suatu moto tenggelamkan al-Qur’an ke laut. Ketika Gowon berkuasa inilah, timbul kesulitan luar biasa di kalangan Muslim, khususnya Muslim bagian Utara, sehingga banyak di antara mereka yang menjadi ‘murtad’.
Jendral Gowon-lah sebenarnya orang pertama di Nigeria yang melakukan dan membudayakan kudeta, dan akhirnya membuat Nigeria terpecahbelah sampai saat ini. Dia adalah tokoh yang patut dipersalahkan dan dicatat dalam tinta hitam dalam sejarah ketetanegaraan Nigeria. Sehingga pada akhirnya terjadi silih berganti perebutan kekuasaan. Oleh karena banyak jendral-jendral Muslim yang melakukan kudeta, maka akhirnya mereka banyak dikutuk dan dikecam oleh komunitas internasional, dan pada akhirnya Islam dan ummat Islam di Nigeria-lah yang tercoreng. Hal ini terbukti sangat ampuh untuk mengeliminasi kekuatan Muslim, sehingga pada pemilihan Presiden 1999 yang lalu, mantan jendral Olusegun Obasanjo yang terpilih sebagai presiden. Dan sebagaimana pendahulunya Jendral Gowon, Jendral Obasanjo juga mempergunakan cara serupa untuk mengeliminasi kekuatan Muslim, antara lain mengikis militer dari dominasi Islam.
Sebagian besar penduduk Muslim Nigeria Utara menyatakan bahwa sebelum diberlakukan Hukum Syari’ah di Zamfara, Kano, Sokoto dan negara bagian lainnya di utara Nigeria, keadilan tak pernah ada, penjahat bebas, polisi tak berdaya, namun dengan hukum Syari’ah penjahat-penjahat akan takut.
Walaupun pemerintah negara bagian utara Nigeria, khususnya Gubernur Negara Bagian Zamfara, Alhaji Ahmad Sani dan sebagian besar masyarakatnya setuju dengan diberlakukannya hukum Syari’ah, tak urung tetap menimbulkan tantangan yang hebat dari penganut Kristen dan Barat, sehingga tantangan tersebut menimbulkan tewasnya ratusan penduduk, baik dari kalangan Kristen maupun Islam di Zamfara, Kano dan Sokoto. Dan pada gilirannya, pertikaian merembet pada pembakaran Masjid mauoun Gereja. Inilah yang diinginkan mereka (baca: yang tidak menyukai hukum Syari’ah), karena bila sering terjadi chaos, hukum Syari’ah tak patut diterapkan di Nigeria, bahkan di Nigeria Utara sekalipun.
Kritikan Barat semakin pedas, ketika Amina Lawal dijatuhi hukuman lempar batu sampai mati oleh Pengadilan Syari’ah Bakori, Katsina, pada tanggal 22 Maret 2002 yang lalu. Amina Lawal dituduh melakukan perzinaan yang akhirnya melahirkan seorang anak perempuan bernama Wasila. Namun karena adanya campur tangan internasional berupa tekanan-tekanan yang hebat dari Amnesty Internasional dan Hak Azasi Manusia, maka hukuman rajam tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Syari’ah Bakori Katsina pada tanggal 25 September 2003.
Konstitusi Nigeria menyebutkan bahwa Negara Federasi Nigeria melindungi pengadilan di Negara-negara Bagian dari segala bentuk intervensi yang dapat mempengaruhi jalannya persidangan. Oleh karena itu, tekanan internasional itulah yang menjadi penyebab dibatalkannya hukuman terhadap Amina Lawal bukan karena tekanan atau permintaan Pemerintah Federal Nigeria. Dan campur tangan internmasional tersebut memang berbau atau bersifat politis. Perjuangan 12 negara bagian Nigeria Utara untuk memberlakukan Hukum Syari’ah memang terlalu berat, dan pasti akan menghadapi tantangan dari dunia internasional.[18]
  • ·         Muslim di Afrika Selatan
Sejarah mencatat perkembangan Islam di kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari peranan Syekh Yusuf, ulama besar asal Makassar yang berjuang di Banten bersama Sultang Ageng melawan Belanda. Pertumbuhan Islam di Afrika Selatan sangat pesat. Sebagian besar memang kalangan muda. Mereka tertarik karena kehidupan Islam bisa membuat mereka meninggalkan kehidupan ala preman dan obat-obatan. Islam menjadi agama yang pertumbuhannya tercepat di tanah hitam itu saat ini. Mereka percaya kembali ke Islam dapat memperbaiki dekadensi moral yang melanda negerinya. Gerakan kembali ke Islam fundamental bukan cuma terjadi di Negeria tapi menyusup ke belahan bumi Afrika lainnya. Tak terkecuali Afrika Selatan. Kemerosotan ekonomi adalah faktor utama yang mendukung meruyaknya gerakan Islam fundamental di Afrika. Dengan segera gerakan yang semula berkembang di Nigeria memiliki pengikut di Ghana, Kamerun, Benin. Para pemuda menjadi pelopor kebangkitan Islam di tanah hitam. Ini sepintas mengingatkan kita pada kebangkitan Islam di Mesir saat negeri itu dipimpin Anwar Sadat dengan munculnya gerakan Ikhwanul Muslimun.
            Dua perkembangan Islam yang berbeda, radikal dan liberal, adalah fenomena yang terjadi  tidak saja di Afrika tapi juga Asia. Namun pertumbuhan di Afrika adalah pengulangan atas sejarah Ikhwanul Muslimun. Historia repitie. Sejarah selalu berulang. Entah apakah Islam radikal bisa mencapai posisi seperti Ikhwanul Muslimun di Mesir karena  hambatan yang mereka hadapi sangat ketat. Seperti Indonesia, Afrika Selatan adalah negeri yang sedang tumbuh. Hanya saja Indonesia lama terpuruk pada krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat korupsi puluhan tahun. Karena itu keinginan yang tumbuh di Afrika Selatan, mengedepankan nilai Islam juga ada di Indonesia. Hanya saja pemerintah seolah keburu meredam gejolak tersebut.
            Di Afrika Selatan, gerakan radikal Islam menolak disebut sebagai fundamental. Mereka lebih senang disebut Islam kaffah karena yang mereka tempuh adalah mengedepankan nilai Islam keseluruhan. Afrika adalah bangsa yang pernah dekat dengan Islam. Karena itu kembali kepada nilai-nilai spiritual yang lama hilang adalah keniscayaan. Maka mereka mengoptimalkan masjid, imam, anak muda dan seluruh komponen pendukung.
            Hampir 72 persen warga kulit hitam beragama Kristen. Sisanya masih menganut kepercayaan lokal. Hanya jumlah kecil yang beragama Islam, Hindu, dan Yahudi. Islam datang ke Afrika lewat pedagang Arab. Hanya saja kemudian terpinggirkan oleh gerakan misionaris. Kemudian politik apartheid juga membatasi gerak Islam untuk tumbuh. Dana dari Muslim India dan warga kulit hitam  sebetulnya sangat membantu mengurangi penduduk miskin. Hanya kemudian ada benturan di antara mereka. Warga kulit hitam menilai India rasis. India juga sangat radikal yang karenanya dilekatkan dengan gerakan teroris. Yang belakangan itu merujuk pada adanya warga India yang terlibat pemboman restoran di Cape Town.
            Muslim kulit hitam menganggap dirinya lebih moderat kendati masih bersimpati dengan warga Palestina dan Afghanistan. Sedangkan kelompok Indian Muslim dianggap lebih memperhatikan politik praktis dan perkembangan dunia luar ketimbang warganya sendiri. Muslim kulit hitam pada akhirnya harus berjuang sendiri mengumpulkan dana untuk pendidikan dan kesejahteraan umat Islam. Terbukti, gerakan ini lebih menarik penduduk miskin untuk masuk Islam. Sementara warga Indian terlibat dalam aktivitas radikal yang menurut mereka bisa mengeluarkan mereka dari penghancuran Islam dengan alasan kebudayaan.

       3.               Masalah-Masalah para kaum Minoritas di berbagai belahan dunia
  • ·                             Masalah ekonomi
Perlakuan berbeda yang dikenakan pada minoritas itu sering bersifat ekonomi. Jika minoritas muslim dipertimbangkan itu bagian dari dari suatu mayoritas muslim, maka tekanan yang berbeda dari kekuatan penyerbu biasanya cenderung menyita harta awqaf, menghilangkan posisi-posisi yang berpengaruh dari para anggota komunitas muslim,nasionalisasi usaha-usaha yang menjadi kekuatan minoritas, mengambil alih kekayaan, terutama tanah, da seterusnya. Mengenai mayoritas Muslim yang kehadirannyamerupakan akibat berkumpulnya imigran muslim dan yang pindah agama dari non-Muslim, minoritas semacam itu harus mulai segala sesuatunya dari awal sekali dengan melawan gangguan ekonomi semacam itu.
Dalam kedua kasus itu, minoritas itu harus berupaya melawan kemunduran ekonomi semacam itu. Untuk mencapainya, harus meningkatkan kegiatan yang menyebabkan solidaritas dan mendukung penyusunan organisasinya.
Tak ada penyusunan organisasi yang dapat berhasil tanpa dukungan keuangan. Orang-orang muslim terus didorong dalam Al-Quran dan juga oleh Nabi “untuk membelanjakan di Jalan Allah”. Untuk suatu minoritas Muslim dinyatakan bahwa menjadi kewajiban orang-orang Muslim untuk menyumbangkan uang, waktu, pengetahuan, dan pengalaman untuk berfungsinya organisasi mereka, pendirian mesjid, pembangunan sekolah, membantu para mujahid mereka. Bantuan keuangan ini di luar zakat. Terbatas pada kebutuhan komunitas. Ini semua semua sangat diperlukan karena tanpa dukungan ini, keberadaan minoritas Muslim akan berada dalam bahaya, dan kelangsungan hidup Islam dibagian dunia itu akan terancam.
Namun kebanyakan orang-orang Muslim sebagaimana didefinisikan di atas tidak menyadari akan kewajiban ini dan tidak ingin tahu tentang persoalan semacam itu karena kelemahan identitas keislaman mereka. Karena itu menjadi kewajiban pemimpin komunitas untuk menimbulkan kesadaran ini dalam diri anggota-anggotanya. Untuk melaksanakan ini organisasi harus mempunyai dana awal untuk memulainya.[19]
  • ·                      Masalah Sosial 
Masalah yang paling serius yang mungkin dihadapi oleh minoritas dalah masalah penyerapan sosial oleh mayoritas. Penyerapan seperti itu biasanya merupakan hasil dari proses asimilasi yang panjang yang mengikis sedikit demi sedikit cirri keislaman dari minoritas sampai lenyap sama sekali. Proses asimilasi ini berjalan efektif dan cepat, terutama ketika komunitas muslim itu terorganisasi dengan buruk, tidak mempunyai sekolah khusus untuk anak-anaknya dan jumlah mesjidnya tidak memadai (sebagai pusat komunitas dan keagamaan) untuk orang dewasanya.
Kasus-kasus berpindahnya orang-orang Muslim ke agama lain yang disengaja biasanya jarang. Namun, ketika komunitas mulai menyerap ciri-ciri non-Islam yang mempengaruhi rasa identitas Islamnya, perkawinan campuran dengan non-Muslim meningkat secara menyolok dan bukan menjadi cara pertumbuhan komunitas Muslim sebagai hasil dari orang-orang luar yang memeluk Islam. Malah itu semua menjadi cara yang kuat dari asimilasi sosial dan kultural. Tanda yang paling tidak menyenangkan dari penyerapan sosial adalah hilangnya nama Muslim sebagai nama pertama, suatu fenomena yang sangat umum di kalangan keturunan dari perkawinan campuran seperti itu.
Menurut Islam, tak ada salahnya komunitas Muslim meyerap ciri-ciri yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Salah satu ciri ini ialah mempelajari bahasa mayoritas (yang tidak akan berbahaya jika orang-orang Muslim itu dapat tetap mempelajari bahasa Arab, bahasa Al-Quran), memakai pakaiannya, asal saja tidak melanggar kesopanan berpakaian yang diajarkan oleh Islam, dan penyerapan kebiasaan sosial yang tidak dilarang oleh Islam. Bagaimanapun para anggota komunitas Muslim harus menahan diri agar tidak menerap ciri-ciri non-Islam.[20]
  •                ·         Masalah Politik
                        Salah satu masalah yang paling serius yang menimpa minoritas Muslim adalah pengingkaran secara berangsur-angsur hak-hak politik terhadap orang-orang Muslim sebagai suatu komunitas dan penganiayaan para anggotanya.
            Pengingkaran hak-hak politik komunitas dapat mengambil bentuk tidak mengakui identitas Islam karena dan lain alasan. Keadaan ini secara otomatis mengarah pada penerapan hokum yang secara khusus dibuat bagi mayoritas non-Muslim untuk digunakan melawan individu muslim. Ini member kekuatan terhadap proses asimilasi yang diprakarsai oleh mayoritas yang cenderung akan menghancurkan kehadiran Islam. Pertama, Swedia dapat menjadi contoh. Gereja resmi di Swedia adalah Gereja Lutheran, ini berarti bahwa pemerintah mendukung gereja itu secara finansial dengan memungut pajak satu persen dari pendapatan penduduk dan memperkuatnya dengan memasukkan pengajaran doktrin gereja itu dalam kurikulum sekolah. Kasus kedua, pengingkaran hak-hak politik terhadap orang-orang Muslim yang mempunyai efek tekanan yang hebat kepada para anggota aktif dari komunitas itu. Kadang-kadang mereka bereaksi melalui salah satu dari tiga cara, semuanya berbahaya bagi masa depan komunitas itu.(1) mereka beremigrasi,(2) mereka memperlemah identitas Islamnya, akhirnya mengisolasikan dirinya dari komunitas Muslim,atau(3)mereka akan bergabung dengan kelompok-kelompok asing yang ekstrimis dalam pekerjaan yang berbeda, yang mengekspresikan frustasinya yang sempurna, baik terhadap mayoritas maupun terhadap komunitasnya sendiri.
            Sekali komunitas itu terorganisai dengan baik, pemimpin-pemimpinnya harus berusaha dengan keras untuk memperoleh pengakuan dari penguasa dari non-Muslim sebagai suatu komunitas keagamaan yang mempunyai hak untuk mempertahankan ciri-cirinya. Sekali diakui, komunitas harus meneruskan permintaan persamaan hak seperti komunitas keagamaan lain yang menikmati kebebasan di Negara itu. Akhirnya, komunitas harus dapat berusaha memperoleh hak-hak politik sebagai komunitas pokok dari bangsa itu. Sekali hak-hak diperoleh, komunitas harus berusaha menyebarkan ciri-cirinya ke seluruh negeri.[21]


DAFTAR PUSTAKA
Baojun, Liu, Haji Yusuf.  1999. A Glance at Chinese Muslims, an Introductive Book, Kuala Lumpur: Malaysian Encyclopedia Research Center Berhad.

Kettani, M. Ali. 2005. Minoritas Muslim di dunia dewasa ini. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Setiawan, Teguh  & Sri Budi Eko Wardani. 2010. Denyut Islam di Eropa. Jakarta: Republika

Azra, Azyumardi. 1989. Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Buku Obor.



INTERNET


















[1] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di dunia dewasa ini. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005. hal. 1
[2] Ibid, hal. 1
[3] Liu Baojun, Haji Yusuf, A Glance at Chinese Muslims, an Introductive Book, Kuala Lumpur: Malaysian Encyclopedia Research Center Berhad, hlm. 53.

[19] M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di dunia dewasa ini… Op. Cit hal. 12
[20] Ibid., hal. 15
[21]Ibid., hal. 18